Makalah Peran Generasi Milenial Terhadap Revolusi Industri Era Pandemi COVID
Makalah
Peran Generasi Milenial Terhadap Revolusi Industri Era Pandemi COVID
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan judul “Peran Generasi Milenial terhadap Revolusi Industri Era Pandemi COVID ”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Karya Tulis Ilmiah. Penyusunan makalah ini bertujuan menambah wawasan kepada pembaca mengenai revolusi Industri 4.0.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.
London, 06 Juni 2022
DAFTAR ISI
Cover i
Kata Pengantar ii..........................................................
Daftar Isi iii
Bab I Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan 3
Bab II Pembahasan 4
2.1 Revolusi Industri 4.0 4
2.2 Generasi Milenial 4
2.3 Covid 19 4
2.4 Dampak Covid terhadap Revolusi Industri 4.0 5
2.5 Peran Generasi Milenial pada Industi 4.0 di Era Pandemi Covid 5
Bab III Kesimpulan dan Saran 11
3.1 Kesimpulan 11
Daftar Pustaka 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada tahun 1784 penemuan mesin uap oleh James Watt dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia menjadi lahirnya Revolusi industr. Penggunaan mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik dan digunakan secara massal pada akhir abad ke 19 adalah ciri Revolusi Industri kedua. Selanjutnya penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur pada tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri yang ketiga.
Saat ini, perkembangan yang pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri. Gagasan inilah yang diprediksi akan menjadi revolusi industri yang berikutnya. Angka empat pada istilah Industri 4.0 merujuk pada revolusi yang ke empat. Industri 4.0 merupakan fenomena yang unik jika dibandingkan dengan tiga revolusi industri yang mendahuluinya. Industri 4.0 diumumkan secara apriori karena peristiwa nyatanya belum terjadi dan masih dalam bentuk gagasan (Drath dan Horch, 2014).
Pada tahun 2019 pandemi Covid melanda dunia. Pandemi ini disebabkan oleh Virus Corona atau Covid-19. Virus ini berasal dari hewan seperti kelelawar yang ditularkan kemanusia di Kota Wuhan, China dimana akibat dari masyarakat disana yang gemar memakan makanan-makanan yang tidak lazim untuk dimakan seperti kelelawar tersebut. Virus ini pun akhirnya menyebar hingga seluruh dunia bahkan indonesia. World Health Organization (WHO) telah menetapkan bahwa Covid-19 atau coronavirus ini merupakan pandemi yang telah menyebar ke seluruh dunia. Ini adalah virus pertama yang sampai menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menyebabkan banyak permasalahan seperti sosial, ekonomi dan menyebabkan kenaikan mortalitas (kematian) pada masyarakat. Virus ini menyebar dengan sangat cepat serta gejala yang dirasakan umumnya adalah demam, kelelahan dan batuk kering. Gejala yang dirasakan biasanya ringan dan mulai secara bertahap, pemerintah mengatakan gejala Covid-19 ini dinyatakan positif setelah 14 hari.
Pandemi covid tidak hanya berdampak kesehatan juga berdampak terhadap berbagai sektor yang ada di Indonesia termasuk sektor Industri. Dampak covid terhadap sektor industri menyebabkan lemahnya perekonomian Indonesia. Lemahnya perekonomian Indonesia ini ditandai dengan adanya resesi. Kondisi ini membuat Negara Indonesia mengalami berbagai persoalan ekonomi diberbagai sektor dimana, sektor-sektor yang ikut terkena dampak dari wabah virus ini adalah sektor lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan hingga konsumsi rumah tangga yang menurun. Di sektor konsumsi rumah tangga terjadi ancaman kehilangan pendapatan masyarakat karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terutama rumah tangga miskin dan rentan serta sektor informal. Kemudian, penurunan lainnya juga terjadi pada UMKM. Pelaku usaha ini tidak dapat melakukan kegiatan usahanya sehingga terganggu kemampuan memenuhi kewajiban kredit.
Kondisi ini tentu berdampak pada turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Berbagai lembaga internasional memprediksi turunnya proyeksi ekonomi global tahun ini. Internasional Monetary Found (IMF) menyebutkan penyebaran virus Corona yang cepat akan menghapus harapan pertumbuhan ekonomi. Imbas dari kebijakan setiap negara dan kebijakan negara itu sendiri menimbulkan kelumpuhan sebagian sistem perekonomian seperti halnya sistem ekspor dan impor yang tertunda, serta penuutupan sejumlah lapangan pekerjaan guna mencegah penyebarann virus tersebut.
Generasi milenial merupakan generasi yang lahir pada tahun 1990-2000 an. Peran generasi milenial dalam industri pada pandemi covid sangatlah vital karena sebagian besar pelaku kegiatan revolusi industri adalah generasi milenial. Di era pandemi covid perubahan industri terasa sangatlah banyak berubah yaitu mulai dari penggunaan media digital disemua aspek kegiatan
Generasi milenial adalah Sumber daya manusia paling banyak saat ini yang menjadi tumpuan perekonomian Indonesia. Menurut penelitian Madiistriyato dan Hadiwijaya (2019), Adversity Quotient di Indonesi sangat rendah. Adversity Quotient sangatlah rendah dicirikan dengan memiliki daya juang rendah dan mudah menyerah. Lemahnya daya juang rendah dan sifat mudah menyerah ini diakibatkan banyak hal salah satu tidak dapat beradaptasi karena perubahan.
Perubahan dalam berbagai bidang tidak diiringi dengan pengetahuan yang baik teknologi. Pengetahuan yang kurang pada era pandemi Covid sangatlah vital terhadap suksesnya adaptasi terhadap perubahan. Generasi milenial yang hampir kurang lebih 33 % dari total penduduk Indonesia memegang peran penting dalam adaptasi perubahan industri di era Covid 19.
Di era Pandermi Covid, perubahan dalam segala aspek bidang sangat terasa. Perubahan dalam berbagai bidang ini sangat berpengaruh pada kehidupan generasi milenial. Perubahan karena pandemi Covid juga berpengaruh terhadap AQ generasi milenial Indonesia. Rendahnya AQ ini membuat mudahnya menyerah diakibatkan oleh tantangan di era pandemi Covid.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa pengertian revolusi industri 4.0 ?
2. Bagaimana pengaruh Covid 19 terhadap revolusi Industri 4.0?
3. Bagaimana peran generasi milenial dalam menghadapi revolusi Industri di Era Pandemi Covid?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian revolusi industri 4.0
2. Untuk mengetahui dampak Covid-19 terhadap Revolusi Industri 4.0
3. Untuk mengetahui peran generasi milenial dalam menghadapi revolusi Industri di Era pandemi Covid.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0 terjadi ketika robot yang terkoneksi dengan sistem komputer, diperlengkapi dengan machine learning algorithms yang dapat belajar dan mengontrol robot itu sendiri tanpa input dari human operators yang dikenal dengan istilah artificial intellegence (AI). Selanjutnya AI dihubungkan dengan internet based society. Hakekatnya revolusi industri 4.0 merupakan penyatuan dunia online dengan industri produksi, sehingga menjadi revolusi industri digital (Xing dan Marwala, 2016).
Era Industri 4.0 yang dimaksud dalam tulisan ini adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada era dimana terjadi perpaduan teknologi yang mengakibatkan dimensi fisik, biologis, dan digital sulit untuk dibedakan (Scawab, 2016). Era Industri 4.0 ditandai dengan terjadinya digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara massif di berbagai sektor kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi (Scawab, 2016).
2.2 Generasi Milenial
Generasi milenial atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers merupakan lanjutan setelah generasi X, yang mana tidak ada batasan pengelompokan di mana harus berawal dan berakhir dari kelompok ini. Umumnya peneliti menggunakan awal tahun 80-an untuk menyatakan awal kelompok ini berada diantara pertengahan 90-an hingga awal tahun 2000-an dikategorikan sebagai akhir kelahiran.
Sedangkan generasi milenial menurut para ahli adalah sebagai berikut :
a) Menurut Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi (2017) dalam bukunya Millennial Nusantara menyebutkan bahwa Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2000.
b) Jika didasarkan pada Generation Theory yang di cetuskan oleh Karl Manheim pada tahun 1923, generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai dengan 2000. Generasi milenial juga disebut sebagai generasi Y. Istilah ini mulai dikenal dan di pakai pada editorial Koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993 (BPS, 2018).
Dapat kita pahami bahwa Generasi milenial (generasi Y) adalah Seseorang yang lahir diawal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini, dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.
Menurut Harber (2011), Adapun ciri-ciri dari generasi milenial (generasi Y) adalah lahir dan tumbuh dengan perkembangan teknologi (laptop, ponsel, smartphone), lebih memiliki untuk berkomunikasi melalui email atau pesan teks, lebih memilih webinar dan teknologi online untuk presentasi pelajaran berbasis tradisional, memiliki ekspekstasi yang tinggi terhadap pimpinan, tidak takut bertanya, menginginkan pekerjaan yang berat, belajar yang lebih baik, memiliki harga diri tinggi, generasi yang percaya diri dan paling peduli terhadap pendidikan.
2.3. Covid 19
Corona virus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh corona virus, yang menjadi krisis kesehatan dunia karena penyebarannya yang sangat cepat (WHO, 2020). COVID-19 mulai terjadi pada bulan Desember 2019, wabah virus ini pertama kali terjadi di kota Wuhan di Provinsi Hubei Tengah Cina (Holshue et al, 2020). Pada tanggal 11 Januari Cina mengumumkan kematian COVID-19 yang pertama yaitu pada seorang pria berusia 61 tahun, yang terpapar saat ke pasar makanan laut. Di tengah meningkatnya kematian di Tiongkok, kematian pertama di luar China yaitu pada seorang pria yang berasal dari Tiongkok di Filipina pada 2 Februari (WHO, 2020).
2.4 Dampak Covid terhadap Revolusi Industri 4.0
Covid bukan hanya memiliki dampak terhadap kesehatan akan tetapi hampir semua aspek kehidupan. Perubahan ini juga sangat berpengaruh terhadap wajah revolusi Industri 4.0. Seperti kita ketahu Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan memanfaatkan teknogi dalam membantu segala kerjaan manusia. Adanya peraturan permerintah seperti sosial distance dan Work from Home (WFH) membuat segala aspek perkerjaan menggunakan teknologi media dan Internet. Akan tetapi perubahan ini tidak sejalan dengan pemahaman manusia tentang media teknologi. Hal ini mengakibatkan untuk berjalannya industri 4.0 tidak mendapatkan hasil maksimal dalam dunia kerja. Perubahan ini mengakibatkan hancurnya sektor perekonomian. Banyaknya bangkutnya perusahaan dan pemecatan karyawan adalah fenomena yang ada diakibatkan oleh pandemi Covid.
2.5 Peran Generasi Milenial pada Industi 4.0 di Era Pandemi Covid
Di Indonesia sendiri terdapat lebih dari 80 juta Generasi Y pada 2010 dan akan meningkat menjadi 90 juta pada akhir 2030; berarti 1/3 masyarakat Indonesia merupakan Generasi Y. Pada 2015, lebih dari 35% penduduk Indonesia adalah penduduk muda berusia 15-34 tahun. Secara teoretis, sebuah generasi terbentuk sebagai kelompok yang memiliki kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan life events yang signifikan pada tahap kritis perkembangannya. Jadi, sebuah generasi menjadi berbeda dengan generasi lainnya karena terdapat faktor perubahan yang membawanya. Selain itu, potensi proporsi Generasi Y juga akan semakin meningkat pada masa mendatang (Kratz, 2013).
Pada 2014, Generasi Y mempunyai proporsi 36% di dunia kerja. Selanjutnya ada kemungkinan bahwa pada 2020 sebesar 46 % Generasi Y mendominasi dunia kerja. Data tersebut memperlihatkan porsi Generasi Y di dunia kerja. Namun, jika dilihat hanya dari komposisi antargenerasi di Kementerian Keuangan, pada 2013 dapat dilihat bahwa Generasi Baby Boomers hanya sebesar 17%, Generasi X sebesar 38% dan Generasi Y sebesar 45%. Apabila diproyeksikan maka pada 2017 Generasi Y meningkat menjadi 73%, sementara Generasi X dan Generasi Baby Boomers menurun menjadi 25% dan 2% (BPS, 2019).
Selain Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) yang memegang peran dalam kesuksesan seseorang, ada satu faktor lainnya yang bisa memengaruhi kesuksesan seseorang yaitu Adversity quotient (AQ) (Stoltz, 2000). AQ berperan dalam memberikan gambaran tentang ketahanan seseorang dalam menghadapi atau mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Lebih jauh, Stoltz menemukan bahwa rasa ketidakberdayaan (AQ rendah) dapat mengurangi kinerja, produktivitas dan motivasi. AQ bisa mengukur kegigihan, tanggung jawab, harapan, optimisme dan stres pada seseorang. Selain itu AQ juga memampukan seseorang mengubah kesulitan menjadi peluang dalam hal pekerjaan dan karenanya menjadi salah satu komponen yang penting dalam kesuksesan seseorang.
Hasil penelitian awal terhadap 30 karyawan Generasi Y di beberapa organisasi yang dilakukan selama November 2017 memperlihatkan bahwa karyawan-karyawan tersebut mempunyai AQ yang rendah. Mereka tidak yakin mampu menghadapi kesulitan yang muncul dalam pekerjaan, tidak bisa menemukan berbagai solusi efektif dalam menyelesaikan pekerjaan, dan kurang mampu bertahan ketika pekerjaan tak kunjung selesai karena adanya kesulitan yang ditemui. Walaupun mereka menganggap bahwa setiap tugas adalah tanggung jawab yang harus dikerjakan dan mereka berusaha untuk mencapai tujuan perusahaan, beberapa rencana kerja yang sudah ditetapkan tidak bisa berjalan baik, menunjukkan kurangnya kegairahan dan tak ada keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan maksimal.
Kecenderungan rendahnya kemampuan karyawan untuk mengatasi kesulitan merupakan kesalahan yang bisa berubah menjadi kegagalan, sehingga besarnya rintangan dengan risiko gagal akan berdampak kepada kemampuan berprestasi seseorang. Dalam pekerjaannya, karyawan tidak luput dari berbagai hambatan/tantangan/kesulitan. Sebab itu, karyawan harus memiliki kemampuan mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang. Dengan adanya kemampuan mengubah hambatan/ tantangan/ kesulitan menjadi peluang maka akan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pekerjaannya.
Sementara itu, berdasarkan pada hasil pengamatan dan wawancara terhadap 30 karyawan Generasi Y pada beberapa organisasi, diperoleh penurunan motivasi karyawan dari Generasi Y yang ditunjukkan dengan kurangnya usaha mencari cara serta melakukan berbagai hal untuk bisa meningkatkan pekerjaannya. Mereka telah merasa cukup puas dengan yang dicapainya saat ini. Dalam dirinya hanya ada sedikit keinginan untuk meningkatkan apa yang telah dicapai. Mereka tidak berusaha terus untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Kecenderungan rendahnya kemampuan karyawan untuk mengatasi kesulitan merupakan kesalahan yang bisa berubah menjadi kegagalan, sehingga besarnya rintangan dengan risiko gagal akan berdampak kepada kemampuan berprestasi seseorang. Dalam pekerjaannya, karyawan tidak luput dari berbagai hambatan/tantangan/kesulitan. Sebab itu, karyawan harus memiliki kemampuan mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang. Dengan adanya kemampuan mengubah hambatan/ tantangan/ kesulitan menjadi peluang maka akan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pekerjaannya.
Secara umum, kecerdasan dapat dipahami pada dua tingkat. Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai sebuah kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang dihadapi oleh seseorang dapat segera dipecahkan (problem solved), dan dengan demikian pengetahuan pun menjadi bertambah (Daniel, 2006).
Berdasarkan dua pengertian di atas, dapat dipahami dengan mudah bahwa kecerdasan merupakan pemandu (guide) bagi individu untuk mencapai berbagai sasaran dalam hidup yang dijalaninya secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi-strategi pencapaian sasaran yang jauh lebih baik daripada orang yang kurang cerdas. Artinya, orang cerdas sepantasnya lebih sukses dibanding orang yang kurang cerdas (Trisnawati, 2006).
Konsep tentang kecerdasan adversitas atau Adversity Quotient (AQ) dibangun berdasarkan hasil studi empirik. Kecerdasan adversitas memasukkan dua komponen penting dari setiap konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan aplikasinya dalam dunia nyata. Konsep Adversity Quotient pertama kali digagas oleh Paul G. Stoltz. Stoltz dalam dua bukunya berjudul "Adversity Quotient” (2000) dan "Adversity Quotient at Work” (2003) secara komprehensif menjelaskan apa yang dimaksud kecerdasan menghadapi kesulitan dan bagaimana meningkatkan kecerdasan baru tersebut. Kecerdasan baru dimaksud berawal dari hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan kelas atas selama 19 tahun, mengkaji lebih dari 500 referensi dari tiga cabang ilmu pengetahuan, yakni psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi, dan menerapkan hasil penelitian dan pengkajiannya selama 10 tahun di seluruh dunia dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa terdapat satu kecerdasan baru yang selama ini tidak terungkap dibutuhkan dan menentukan kesuksesan seseorang, yakni kecerdasan menghadapi kesulitan (Adversity Quotient).
Menurut definisi Stoltz, Adversity Quotient adalah, “The capacity of the person to deal with the adversities of his life. As such, it is the science of human resilience”. Atau bila diterjemahkan, “Kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan kesengsaraan dalam hidupnya”. Adversity Quotient adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan. AQ dapat dipandang sebagai ilmu yang menganalisis kegigihan manusia dalam menghadapi setiap tantangan sehari-harinya. Kebanyakan manusia tidak hanya belajar dari tantangan tetapi mereka bahkan meresponnya untuk memeroleh sesuatu yang lebih baik. AQ juga dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain, AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Thomas J Stanley yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul "The Millionaire Mind" (2003) menjelaskan hal yang sama, bahwa mereka yang berhasil menjadi millioner di dunia ini adalah mereka dengan prestasi akademik biasa-biasa saja (rata-rata S1), namun mereka adalah pekerja keras, ulet, penuh dedikasi, dan bertanggung jawab, termasuk tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarganya. Adversity Quotient itu sendiri mempunyai tiga bentuk, yaitu:
v Suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
v Suatu ukuran untuk mengetahui respons terhadap kesulitan.
v Serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respons terhadap kesulitan.
Rendahnya AQ pada generasi milenial adalah salah satu kelemahan dalam menghadapi Revolusi industri 4.0 di era Pandemi Covid. Pandemi Covid sangat berperngaruh terhadap semua aspek di Indonesia. Beberapa peraturan pemerintah yaitu Social Distancing sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri Indonesia. Perubahan industri dari tatap muka menjadi tatap online menjadi hal yang utama menjadi masalah utama. Perubahan ini mengubah wajah revolusi Industri 4.0. Artinya penggunaan teknologi media dalam semua bidang sangat tinggi.
Akan tetapi hal ini tidak selaras dengan ciri karakteristik dari generasi Milenial yaitu memiliki AQ rendah. Diharapkan perubahan yang diakibatkan oleh pandemi Covid diatasi dengan pemahaman media. Pemahaman media dapat kita atasi dengan pelatihan. Pelatihan ini akan sangat berpengaruh terhadap daya adaptasi terhadap perubahan. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan pemerintah yaitu dengan program prakerja. Dalam program prakerja terdapat banyak pelatihan gratis yang bersifat edukatif dalam mengatasi perubahan wajah industri 4.0. Diharapkan para generasi milenial Indonesia dapat memahami penggunaan teknologi digital yang berkembang selama covid sebagai ciri revolusi Indusri 4.0.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Revolusi Industri 4.0 merupakan penyatuan dunia online dengan industri produksi, sehingga menjadi revolusi industri digital.
2. Dampak Covid terhadap revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi digital yang semakin banyak dalam kehidupan manusia.
3. Generasi milenial berperan sebagai panutan dalam penggunaan teknologi digital dalam revolusi Industri 4.0 di Era pandemi Covid (mengubah hambatan menjadi peluang).
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Hasanuddin dan Lilik Purwandi. 2020. INDONESIA GEN Z AND MILLENIAL REPORT 2020: The Battle of Our Generation. Jakarta: Avara Research Center
Badan Pusat Statistik. Profil Generasi Milenial Indonesia, Indonesia : Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, 2019
Caterine, Budiana, Indrowaty, dkk, Etika Profesi Pendidikan Generasi Milnenial 4.0 (Malang: UB Press,2019). h.102-103.
Goleman, Daniel, 2006. Emotional Intelligence. Bantam books.
Harber, J. G. (2011). Generation in the Workplace : Similarities and Difference. Theses. School of Graduate Studies East Tennessee State University.
Harries, Madiistriyatno., dan Dudung Hadiwijaya. Generasi Milenial Tantangan Membangun Komitmen Kerja/Bisnis dan Adversity Quotient. 2020. Bandung:Widina Bhakti Persada
Kratz, H. (2013). Maximizing Millennials: The Who, How, and Why of Managing Gen Y. University of North Carolina
Schwab, Klaus. (2016). The most problematic factors for doing business. In The Global Competitiveness Report 2016 – 2017 (pp. 206). Switzerland : SRO – Kundig. (Reprinted from Global Competitiveness Network. pp. 1 – 382, by World Economic Forum, 2009, Switzerland : SRO – Kundig).
Stanley, Thomas. 2003. The Millionaire Mind. Change Publication
Trisnawati, E. 2003. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat
World Health Organization. Novel Coronavirus (2019-nCoV) SITUATION REPORT - 1. Vol. 10, Materials and Methods. 2020
Xing, Bao, and Marwala, Implication of the Fourth Industrial Age on Higher Education. China, 2016.
Comments
Post a Comment