MAKALAH EKOSISTEM PERAIRAN TAWAR : MANFAAT DAN ANCAMAN KELASTARIANNYA
MAKALAH
EKOSISTEM PERAIRAN TAWAR : MANFAAT DAN ANCAMAN KELASTARIANNYA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Jurnal Kita
DAFTAR ISI
Kata pengantar.......................................
Cover
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Maksud dan Tujuan Makalah
1.3.1 Maksud Makalah
1.3.2 Tujuan Makalah
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Ekosistem
2.1.1 Pengertian Ekosistem
2.1.2 Komponen Pembentuk Ekosistem
2.1.3 Jenis Ekosistem
2.2 Ekosistem Perairan Air Tawar
2.2.1 Pengertian Ekosistem Air Tawar
2.2.2 Faktor Abiotik Fisika-Kimia Ekosistem Air Tawar
2.2.2.1 Suhu
2.2.2.2 Kecerahan Air
2.2.2.3 pH
2.2.2.4 DO (Dissolved Oxygen)
2.2.3 Macam-macam Ekosistem Perairan Air Tawar
2.2.3.1 Waduk
2.2.3.2 Ekosistem Sungai
2.2.3.3 Danau
2.2.3.4 Ekosistem Perairan Karst
2.2.4 Manfaat dan Masalah Ekosistem
2.2.4.1 Manfaat Ekosistem Perairan Air Tawar
2.2.4.2 Masalah Ekosistem Perairan Air Tawar
3.1 BAB III PEMBAHASAN
4.2 BAB IV KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan judul "EKOSISTEM PERAIRAN TAWAR : MANFAAT DAN ANCAMAN KELASTARIANNYA"
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.
Aeksitapen, 05 Juni 2022
Jurnal kita
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman geologi, geomorfologi, dan geografi. Letaknya di garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan perubahan suhu sepanjang tahunnya relatif kecil. Iklim yang stabil ini mendukung proses berkembang biaknya berbagai organisme, tidak bergantung pada perubahan cuaca maupun musim. Struktur geologi Indonesia dibentuk oleh barisan gunung di sepanjang dan antar pulau, dari Sumatra, Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Sebagian besar gunungnya bersifat aktif dan kesuburan tanahnya tinggi. Indonesia juga memiliki struktur laut dalam dan dangkal, juga terdapat pertemuan arus laut panas dan dingin. Keanekaragaman geologi dapat membentuk keanekaragaman ekosistem kemudian menghasilkan biodiversitas organisme.
Ekosistem dibagi menjadi dua jenis, yaitu: terestrial (daratan) dan akuatik (perairan). Ekosistem terestrial memiliki keberadaan air yang rendah, sebaliknya ekosistem akuatik adalah yang berbasis air. Ekosistem akuatik kemudian dibagi menjadi dua jenis, yaitu air tawar (freshwater) dan air laut (marine). Ekosistem air tawar memiliki karakter yang berbeda dengan ekosistem air laut, karena komposisi kimia dan fisikanya berbeda, meskipun jenis organisme yang terkandung di dalamnya sama. Di samping itu, berdasarkan komponen penyusunnya, ekosistem terdiri dari faktor biotik (hidup) dan abiotik (tidak hidup). Faktor biotik mencakup predasi, kompetisi, herbivori, simbiosis, dan berbagai interaksi antara komponen biotik maupun abiotik. Sementara, faktor abiotik mencakup air, suhu, salinitas (kadar garam), sinar matahari, batuan dan tanah, dan iklim. Ekosistem air laut memiliki salinitas lebih tinggi. Salinitas menentukan tingkat osmolaritas yang mempengaruhi osmoregulasi pada suatu organisme, yang membantu organisme dalam menyeimbangkan zat terlarut dan air yang hilang dalam proses ekskresi. Faktor biotik dan abiotik memiliki pengaruh terhadap distribusi organisme dalam lingkungan berair tersebut (bentos). Lebih lanjut, komunitas bentos dipengaruhi oleh kedalaman, kadar nutrien, arus air, oksigen terlarut, suhu, pH, keberadaan bahan beracun, dan kesadahan air (Hawk, 1979;,.Fachrul, 2007).
Manfaat dari Ekosistem Perairan Air tawar terhadap manusia sangatlah berperan penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Akan tetapi manfaat tersebut dapat berubah menjadi masalah ketika ekosistem memberikan efek negatif terhadap kehidupan manusia. Masalah tersebeut diakibatkan oleh perubahan kondisi lingkungan. Perubahan suatu kondisi lingkungan di ekosistem perairan biasanya disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian akan menghasilkan limbah yang membuat penurunan kualitas air (Agustuningsih, 2012). Penurunan kualitas air akan diikuti dengan perubahan kondisi fisik, kimia, dan biologis Ekosistem air tawar tersebut. Perubahan yang terjadi akan berdampak pada kerusakan habitat dan berdampak pada kerusakan habitat dan mengakibatkan penurunan keanekaragaman organisme yang hidup pada ekosistem perairan air tawar (Odum, 1996).
1.2 Rumusan Masalah
a) Apakah pengertian, komponen dan jenis Ekosistem?
b) Bagaimana komponen Ekosistem Air Tawar dan Jenis-jenisnya?
c) Bagaimana Manfaat dan Ancaman Ekosistem Perairan Tawar?
1.3 Maksud dan Tujuan Makalah.
1.3.1 Maksud Makalah
a. Mengetahui apa komponen dan jenis Ekosistem.
b. Mengetahui apa komponen dan jenis Ekosistem Perairan Air tawar.
c. Mengetahui manfaat dan Ancaman terhadap Ekosistem Perairan Tawar.
1.3.2 Tujuan Makalah
a. Menjelaskan pengertian, komponen dan jenis Ekosistem.
b. Memaparkan komponen dan jenis Ekosistem Perairan Air Tawar.
c. Menjelaskan manfaat dan ancaman yang terjadi pada Ekosistem Perairan Air Tawar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekosistem
2.1.1 Pengertian Ekosistem
Ekosistem adalah unit utama dalam kajian ekologi (Mulyadi, 2010). Dalam pengertian lain Menurut (Transley, (1935) dalam Iis, 2020, hlm. 10) “Ekosistem merupakan hubungan saling mempengaruhi secara timbal balik komponen biotik (tumbuhan, hewan, manusia dan mikroba) dan komponen abiotik (cahaya, udara, air, tanah, dsb) di alam, hubungan antar komponen ini membentuk ekosistem”. Ahli ekologi bernama A. G Tansley (1935 dalam Effendi et al., 2018, hlm. 2) Mengemukakan : “Ekosistem ialah suatu unit ekologi yang didalamnya terdapat struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam ekosistem tersebut yakni berhubungan dengan keanekaragaman spesies atau species diversity. Pada ekosistem yang strukturnya kompleks, maka akan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi. Sedangkan fungsi yang dimaksud dalam ekosistem ialah berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen-komponen ekosistem”.
Menurut Ressosoedarmo et. al., (1998) dalam Muhtadi et. al., (2016, hlm. 5) “Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk dari proses interaksi timbal balik antar makhluk hidup dalam satu komunitas dalam lingkungan abiotiknya”. Menurut Odum (1996) dalam Muhtadi et. al., (2016, hlm. 5) “ekosistem atau sistem ekologi merupakan pertukaran bahan-bahan antara bagian-bagian yang hidup dan yang tak hidup di dalam sistem”.
Berdasarkan pengertian ekosistem diatas dapat disimpulkan bahwa ekosistem merupakan suatu unit ekologi yang didalamnya terdapat dua komponen yang saling berhubungan secara timbal balik.
2.1.2 Komponen Pembentuk Ekosistem
Gopal dan Bhardwaj (1979), menyatakan bahwa ekosistem terdiri atas dua komponen, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik berarti mahkluk hidup yang terlibat dalam sistem ekologi tersebut, sedangkan abiotik berarti unsur pendukung kehidupan mahkluk hidup seperti udara, cahaya, tanah, dan air (Irwan, 2007, hlm 27).
2.1.3 Jenis Ekosistem
Ekosistem terbagi menjadi dua yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan
a) Ekosistem alami adalah suatu hubungan timbal balik antara komponen mahkluk hidup yang terbentuk tanpa adanya campur tangan manusia.
b) Ekosistem buatan adalah suatu hubungan timbal balik antara komponen mahkluk hidup yang terbentuk dengan adanya campur tangan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
2.2 Ekosistem Perairan Air Tawar
2.2.1 Pengertian Ekosistem Air Tawar
Ekosistem perairan air tawar ialah lingkungan perairan yang ada di daratan. Dalam definisi lain “Perairan darat merupakan perairan yang hanya terdapat pada suatu permukaan daratan dan biasanya lokasi atau permukaan lebih tinggi daripada permukaan laut.” (Utomo, et.al. 2014, hlm. 3.) Air ini dapat mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang setara dengan permukaan laut, dan akhirnya ke laut. “Oleh sebab itu, ekosistem ini terdapat pada suatu daratan, maka tentu saja dipengaruhi oleh sifat dan karakteristik daratan itu sendiri contohnya suhu, cuaca, cahaya matahari dan faktor lingkungan lain yang berpengaruh terhadap ekosistem tersebut”. (Utomo, et.al. 2014, hlm. 3.)
2.2.2 Faktor Abiotik Fisika-Kimia Ekosistem Air Tawar
2.2.2.1 Suhu
Setiap mahkluk hidup memiliki rentang toleransi suhu yang berbeda beda. Suhu ini berpengaruh terhadap kecepatan metabolisme mahkluk hidup. Jika terjadi peningkatan suhu pada tubuh suatu organisme, maka terjadi juga peningkatan kebutuhan oksigen pada sistem respirasi. Karena peningkatan suhu tubuh memerlukan oksigen maka terjadi juga penurunan kadar oksigen terlarut dalam badan air. Kurangnya oksigen terlarut dalam badan air akan mengakibatkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk proses fisiologinya (Effendi, 2003, hlm 57).
2.2.2.2 Kecerahan Air
Kecerahan air adalah ukuran kemampuan penetrasi cahaya masuk kedalam suatu badan air. Semakin tinggi suatu kecerahan perairan maka akan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan air akan mengurangi kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan yang masuk ke dalam suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air. Kecerahan air tergantung 5 pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk yang dikemukakan oleh Profesor Secchi pada abad ke-19.
2.2.2.3 pH
Menurut Merliyana (2017), pH adalah derajat keasaman yang menunjukan aktivitas ion hidrogen dalam suatu perairan sekaligus menjadi salah satu faktor pembatas bagi mahkluk hidup. Dalam kondisi alaminya, ph di perairan berkisar pada angka 4 hingga 9 dan dapat berubah tergantung pada kondisi lingkungannya. Perubahan nilai ph dapat diakibatkan oleh banyaknya bahan organik dan anorganik terlarut dalam badan air.
2.2.2.4 DO (Dissolved Oxygen)
Menurut Koosbandiah (2014), Oksigen terlarut dapat mengindikasi jumlah oksigen dalam perairan yang dibutuhkan oleh organisme air. Kebutuhan oksigen berdampak pada proses fisiologis organisme air seperti metabolisme dan respirasi. Jumlah oksigen terlarut dalam badan air dipengaruhi oleh kepdatan organisme air, tekanan air, salinitas dan suhu perairan. (Fauziah, 2017 hlm, 20).
2.2.3 Macam-macam Ekosistem Perairan Air Tawar
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan timbal-balik antar organisme hidup dan lingkungannya. Kata ekologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, oikos yang berarti “rumah”atau “tempat untuk hidup” dan logos yang berarti “ilmu” (Odum 1998). Secara umum, ekologi perairan dibagi menjadu duayaitu perairan mengalir dan perairan menggenang. Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dibagi atas dua yaitu perairan letik yang disebut juga perairan tenang (misalnya danau, waduk, rawa, dan telaga) dan perairan lotik yang sebut juga perairan berarus deras (misalnya sungai, kanal, parit).
Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik adalah arus. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang lambat serta terjadi akumulasi massa air dalam periode waktu yang lama, sementara perairan lotik umumnya menpunya kecepatan arus yang tinggi, di sertai perpindahan massa air yang berlangsung dengan cepat, (Barus, 2004 dalam Siregar, 2010).Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang lain. Secara umum setiap aliran sungai dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian hulu, bagian tengah dan hilir(Wibowo 2014)
Lingkungan perairan sungai terdiri dari komponen abiotik dan biotik (algal flora) yang saling berinteraksi melalui arus energi dan daur hara (nutrien) (Rahayuet al 2009). Bila interaksi ke duanya terganggu, maka akan terjadi perubahan atau gangguan yang menyebabkan ekosistem perairan itu menjadi tidak seimbang (Soylu dan Gönülol, 2003). Ekosistem perairanterdapat juga berbagai komponen biotik seperti fitoplankton, zooplankton, nekton, neuston, perifiton, benthos, dan tumbuhan air. Keberadaan plankton dalam perairan memegang peranan yang sangat penting. Fungsi ekologisnya sebagai produser primer dan awal mata rantai dalam jaringan makanan, sehingga menyebabkan plankton sering dijadikan skala ukuran kesuburan suatu ekosistem. Selain itu, fitoplankton dan tumbuhan air merupakan penghasil energi . Sifat kimia perairan dalam ekologi sangat penting. Oleh karena itu, selain melakukan pengamatan pada faktor biotik perlu juga dilakukan pengamatan terhadap parameter kimia dan fisika sebagai faktor abiotik perairan, karena antara faktor biotik dan abiotik saling berinteraksi. Dengan mempelajari aspek saling ketergantungan antara organisme dan faktor-faktor abiotiknya maka diperoleh gambaran tentang kualitas perairan (Barus 2004 dalam Siregar 2010).
2.2.3.1 Waduk
Waduk adalah badan air buatan yang dibuat dengan cara membendung sungai. Waduk dibangun atau dibentuk oleh rekayasa manusia. Menurut Wetzel (2001), setiap zona pada waduk memiliki karakteristik dan proses fisika, kimia, maupun biologi yang berbeda (Permana, 2012, hlm 66).
Waduk merupakan wadah penampungan air yang menerima berbagai masukan nutrisi, padatan dan bahan kimia toksik yang akhirnya mengendap di dasar. Penampungan bahan bahan tersebut berlangsung selama bertahun tahun, sehingga menyebabkan proses pengdangkalan. Cole (1988) mengatakan bahwa “Waduk yang merupakan bendungan dari sungai menjadi perangkap sedimen yang besar dari seluruh masukan sungai” (Permana, 2012, hlm 66). Perairan waduk biasanya memiliki startifikasi akibat perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu pada kolom air.
Menurut pusat penelitian dan pengembangan sumber daya air (Puslitbang SDA, 2004), waduk adalah “salah satu sumber air yang menunjang kehidupan dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Air waduk digunakan untuk berbagai keperluan seperti sumber baku air minum, irigasi, pembangkit listrik, dan perikanan”. Pembangunan waduk besar di indonesia sampai tahun 1995 kurang lebih terdapat 100 waduk yang sebagian besar berlokasi di pulai jawa, salah satu diantaranya adalah Waduk Saguling (Permana, 2012, hlm 67).
Wulandari (2006) dalam Rosyadi (2017, hlm 29) mengatakan, “Waduk terbagi menjadi tiga zona waduk berdasarkan stratifikasi suhu. Bagian permukaan perairan waduk yang memiliki suhu lebih hangat dan bersikulasi disebut epilimnion, bagian tengah waduk tempat terjadi laju perubahan suhu paling besar adalah metalimnion (termoklin), dan bagian dalam waduk yang suhu airnya rendah (dingin) dengan sedikit sirkulasi air disebut zona hipolimnion”. Perdana (2006) dalam Rosyadi (2017, hlm 25) menjelaskan klasfisikasi waduk berdasarkan fungsinya sebagai berikut:
a. Waduk eka guna (single purpose), Waduk eka guna merupakan waduk yang dioperasikan untuk memenuhi satu jenis kebutuhan saja. Hal tersebt mengakibatkan pengoperasian waduk lebih mudah dibandingkan dengan waduk multi guna dikarenakan tidak adanya konflik kepentingan kebutuhan.
b. Waduk multi guna (multi purpose), Waduk multi guna memiliki fungsi dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari masyarakat.
Waduk merupakan danau buatan yang membendung aliran sungai atau daerah yang kemudian memiliki fungsi menjadi wahana dimana pemerintah daerah menggunakannya sebagai pembangkit listrik dan masyarakat memanfaatkannya dalam budidaya ikan (Mulyadi dan Atmaja 2011).
2.2.3.2 Ekosistem Sungai
Sungai terdapat pada ekosistem air tawar dan memiliki tipe mengalir (lotic water). “Sungai merupakan sumber air permukaan yang memberikan manfaat kepada kehidupan manusia. Kualitas sungai akan mengalami perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan lingkungan sungai yang dipengaruhi oleh berbagai aktivitas dan kehidupan manusia”. (Dwi., et.al. 2018, hlm. 2) Berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menjelaskan bahwa “Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air secara alami yang berasal dari curah hujan menuju danau ataupun laut”. Sebagian pencemaran sungai pastinya disebabkan oleh kehidupan disekitarnya baik pada sungai itu sendiri atau manusia selaku pengguna sungai.
2.2.3.3 Danau
Danau merupakan perairan lentik yang berbentuk cekungan, yang menempati suatu daerah yang yang relatif memiliki luas lebih kecil dibandingkan dengan lautan dan daratan. Genangan air pada danau memiliki permukaaan air yang lebih tinggi dari permukaan air laut. Danau terbentuk diakibatkan oleh proses kejadian alam yang sangat bervariasi, sehingga karakteristik danau berlainan sesuai dengan kejadiannya (Koosbandiah, 2014, hlm. 34&38).
Menurut Odum (1994) Berdasarkan kedalaman penetrasi cahaya matahari kedalam suatu perairan, Perairan danau dapat dibedakan berdasarkan beberapa zona perairan, yaitu:
a) Zona litoral merupakan daerah perairan dangkal pada danau, dimana penetrasi cahaya dapat mencapai hingga ke dasar perairan. Organisme yang menempati pada zona ini terdiri dari produsen yang merupakan tumbuhan, meliputi tanaman berakar (anggota spermatophyta) dan tanaman yang tidak berakar (fitoplankton, ganggang), sedangkan konsumennya meliputi beberapa larva serangga air, rotifera, moluska, ikan, penyu, zooplankton dan lain sebagainya.
b) Zona limnetik merupakan daerah perairan terbuka sampai pada kedalamanpenetrasi cahaya yang efektif, sehingga daerah ini efektif untuk proses fotosintesis. Organisme yang hidup pada zona ini terdiri dari produser yang meliputi fitoplankton dan tumbuhan air yang terapung-apung bebas, sedangkan organisme konsumennya meliputi zooplankton dari copepoda, rotifera dan beberapa jenis ikan.
c) Zona profundal merupakan daerah dasar dari perairan danau yang dalam, dimana pada daerah ini tidak dapat lagi dicapai oleh penetrasi cahaya efektif. Sebagai organisme utama yang hidup pada zona ini adalah konsumen yang meliputi jenis cacing darah dan kerang-kerang kecil.
Berdasarkan tingkat kesuburannya, Perairan danau dapat diklasifikasikan menjadi empat kriteria (Effendi, 2003, hlm. 37-38) yaitu :
a. Oligotrofik (miskin unsur hara dan produktivitas rendah), yaitu perairan dengan produktivitas primer dan biomassa yang rendah. Perairan ini memiliki kadar unsur hara nitrogen dan fosfor rendah, namun cenderung jenuh dengan oksigen.
b. Mesotrofik (unsur hara dan produktivitas sedang), yaitu perairan dengan produktivitas primer dan biomassa sedang. Perairan ini merupakan peralihan antara oligotrofik dan eutrofik.
c. Eutrofik (kaya unsur hara dan produktivitas tinggi), yaitu perairan dengan kadar unsur hara dan tingkat produktivitas primer tinggi. Perairan ini memeliki tingkat kecerahan yang rendah dan kadar oksigen pada lapisan hipolimnion dapat lebih kecil dari 1 mg/l.
d. Distrofik, yaitu perairan yang banyak mengandung bahan organik misalnya asam humus dan fulvic.
2.2.3.4 Ekosistem Perairan Karst
Karst merupakan salah satu keanekaragaman lahan yang terbentuk dari batuan gamping oleh air. Sebab itu karst adalah bentuk lahan dengan karakter solusional. Dalam hal ini batu gamping secara alami mengalami pelarutan (karstifikasi) (Samodra, 2006). Karstifikasi terjadi pada dua zona: proses dan bentukan yang dihasilkan ada di atas permukaan (eksokarst) atau di bawah permukaan (endokarst). Endokarst dapat dibagi lagi menjadi dua zona: minor dan mayor (Samodra, 2006). Karstifikasi melibatkan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pelarutan batuan gamping yang menyebabkan batuan tersebut lapuk. Profil pelarutan dan pelapukan batuan gamping menjadi ciri khas dari kawasan karst itu sendiri (Samodra, 2006). Ciri dari suatu kawasan karst adalah kenampakannya yang gersang karena air langsung terserap ke dalam tanah, jenis batuannya adalah gamping, flora yang ditemukan umumnya adalah vegetasi tahan kandungan air rendah. Batuan gamping dapat membentuk morfologi karst apabila beberapa kondisi berikut tercapai (Samodra, 2006):
a) Mempunyai ketebalan yang cukup,
b) Wilayahnya mempunyai curah hujan tinggi,
c) Batuan terkekarkan atau banyak mengandung celah dan rongga,
d) Letaknya lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya dan mempunyai sungai
e) Permukaan yang berfungsi sebagai muka dasar air setempat, - ditutupi oleh vegetasi yang rapat.
Ciri kawasan karst lebih terlihat pada daerah dengan kandungan batu gamping yang terkekarkan. Celah-celah dalam kekar berfungsi sebagai media gerak air di dalam batuan, sehingga proses pelarutan terjadi lebih cepat. Proses pelarutan juga lebih cepat pada daerah dengan letak yang tinggi, sehingga dapat melebarkan rongga dalam zona endokarst. Sungai yang berada di permukaan karst dapat menjadi muka air tanah setempat.
Kuat tidaknya proses pelarutan gamping salah satunya dipengaruhi oleh kadar kalsium oksida (CaO) yang mempengaruhi struktur bangun endo- dan eksokarst. Batu gamping dengan kadar CaO rata-rata 42,56% membentuk bukit kerucut, sedangkan kadar 33,38% membentuk plato (Samodra, 2006).
Vegetasi yang rapat mempengaruhi proses pelarutan terutama ditinjau dari adanya proses biofisik oleh mikroorganisme, evaporasi oleh akar tanaman, dan dekomposisi bahan organik menghasilkan karbon dioksida (CO2) yang bereaksi dengan air hujan membentuk asam karbonat (H2CO3). Asam karbonat mampu melarutkan kalsium atau magnesium dalam batu gamping. Maka proses karstifikasi juga dipengaruhi oleh ekosistem yang ada.
Ekosistem karst termasuk ke dalam perairan tawar yang terbagi atas perairan lentik dan perairan lotik (Odum, 1971). Perairan lentik adalah perairan diam, seperti danau dan waduk, sementara perairan lotik adalah perairan mengalir, seperti sungai. Odum (1971) menyebutkan bahwa biodiversitas pada perairan tersebut dibatasi oleh temperatur, kecerahan, arus, kadar gas, dan kadar garam. Sebagai ilustrasi, suhu dan kadar gas yang lebih tinggi meningkatkan proses metabolism, sehingga pertumbuhan organisme meningkat. Sementara, kecerahan dan arus mempengaruhi ketersediaan dan penangkapan nutrien oleh organisme. Garam berpengaruh pada proses osmoregulasi. Konsekuensi dari kombinasi faktor-faktor tersebut, jenis dan jumlah organisme pada perairan lentik dan lotik berbeda. Lebih lanjut berdasarkan rantai makanan, letak hidup, dan zonanya,
Odum (1971) membagi ekosistem perairan tawar ke dalam beberapa kelompok.
Rantai makanan pada ekosistem terdiri dari produsen primer, dekomposer, detritivor, kumpulan bahan organik yang mati, herbivora, karnivora, parasit, dan lingkungan fisik-kimiawi yang menyediakan tempat hidup dan bertindak sebagai sumber energi dan materi (Begon et al., 2006). Unsur produsen primer merupakan trofik yang paling penting karena menjadi bahan makanan untuk
konsumen pertama (herbivora), yang kemudian menjadi makanan konsumen kedua (karnivora), dan konsumen ketiga (omnivora).
2.2.4 Manfaat dan Masalah Ekosistem
2.2.4.1 Manfaat Ekosistem Perairan Air Tawar
Ekosistem air tawar sangat berperan terhadap manusia antara lain :
a. Budidaya perikanan,
b. Air minum
c. Pertanian;
d. Sanitasi lingkungan;
e. Industri
f. Pariwisata
g. Olahraga
h. Pertahanan
i. Perikanan;
j. Pembangkit tenaga listrik
k. Tarnsportasi.
2.2.4.2 Masalah Ekosistem Perairan Air Tawar
Salah satu permasalahan dari Ekosistem Perairan Air Tawar adalah pencemaran air. Pencemaran diakibatkan oleh adanya zat polutan pada suatu ekosistem. Ditinjau dari asal polutan dan sumber pencemarannya, pencemaran air dapat dibedakan antara lain :
1. Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia, orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya, upayakan agar memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian bendungan. bemdungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.
2. Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga yang cair merupakan sumber pencemaran air. Dari limbah rumah tangga cair dapat dijumpai berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemek, air buangan manusia) yang terbawa air got/parit, kemudian ikut aliran sungai. Adapula bahan-bahan anorganik seperti plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah bertimbun,
menyumbat saluran air, dan mengakibatkan banjir. Bahan pencemar lain dari limbah rumah tangga adalah pencemar biologis berupa bibit penyakit, bakteri, dan jamur. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan. Akibatnya kadar oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator)
parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman. Di kota-kota, air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat. Di dalam air got yang demikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan di Indonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.
3.Limbah Industri
Adanya sebagian industri yang membuang limbahnya ke air. Macam polutan yang dihasilkan tergantung pada jenis industri. Mungkin berupa polutan organik (berbau busuk), polutan anorganik (berbuaih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas). Pemerintah menetapkan tata aturan untuk mengendalikan pencemara air oleh limbah industri. Misalnya, limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai agar tidak terjadi
pencemaran.
Di laut, sering terjadi kebocoran tangker minyak karena bertabrakan dengan kapal lain. Minyak yang ada di dalam kapal tumpah menggenangi lautan dalam jarak ratusan kilometer. Ikan, terumbu karang, burung laut, dan hewan-hewan laut banyak yang mati karenanya. Untuk mengatasinya, polutan dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian permukaan polutan ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.
4. Penangkapan Ikan Menggunakan racun
Beberapa penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan atau potas (racun)untuk menangkap ikan tangkapan, melainkan juga semua biota air. Racun tersebut tidak hanya hewan-hewan dewasa, tetapi juga hewan-hewan yang masih kecil. Dengan demikian racun yang disebarkan akan memusnahkan jenis makluk hidup yang ada didalamnya. Kegiatan penangkapan ikan dengan cara tersebut mengakibatkan pencemaran di lingkungan perairan dan
menurunkan sumber daya perairan.
Akibat yang dtimbulkan oleh pencemaran air antara lain :
1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
2. Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi, dan
3. Pendangkalan Dasar perairan.
4. Punahnya biota air, misalnya ikan, yuyu, udang, dan serangga air.
5. Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah.
6. Menjalarnya wabah muntaber.
Dampak Pencemaran Terhadap Kehidupan di Air Pada akhir abad XX ini, limbah kegiatan
industri dikatakan telah mengancam seluruh negeri. Hal ini disebabkan karena melalui mekanisme alam seperti tiupan angin, aliran air sungai, daya rambat di tanah melalui difusi limbah tersebut dapat menyebar ke mana-mana (Syah, 1995). Buangan di perairan menyebabkan masalah kehidupan biota dalam bentuk keracunan bahkan kematian. Gangguan terhadap biota perairan telah menimbulkan dampak penurunan kualitas dan kuantitas biota perairan (ikan dan udang). Kelebihan pupuk yang dialirkan ke rawa atau ke danau dapat menimbulkan suburnya enceng gondok.
Selain itu, erosi lumpur yang terbawa ke laut kemudian diendapkan mengakibatkan tertutupnya permukaan karang yang pada akhirnya menyebabkan kematian karang.
Akibat pencemaran itu kehidupan dalam air dapat terganggu dengan mematikan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam air karena oksigen yang terlarut dalam air akan habis dipakai untuk dekomposisi aerobik dari zat-zat organik yang banyak terkandung dalam air buangan. Pencemaran yang tidak disebabkan oleh sifat racun dari bahan-bahan pencemar adalah :
1. Kandungan lumpur yang meningkat di dalam air mengurangi jumlah cahaya yang masuk yang diperlukan untuk berfotosintesis. Unsur hara yang masuk berlebihan ke ekosistem perairan dapat menyebabkan pertumbuhan yang sangat cepat dari algae atau tanaman air, sehingga menyebabkan berkurangnya bentuk kehidupan lainnya seperti ikan dan kerang-kerangan.
2. Buangan air panas meskipun tidak langsung membunuh biota air, dapat merubah kondisi dari lingkungan hidupnya. Akibatnya, satu jenis akan tumbuh dan berkembang lebih cepat sedang yang lain justru dapat terhambat. Kelakuan ikan yang selalu berpindah (migration) dapat berubah disebabkan adanya perubahan suhu yang relatif cepat pada jarak yang pendek.
3. Lumpur erosi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang baik dapat diendapkan di pantai-pantai dan mematikan kehidupan karang atau merusak tempat berpijak biota perairan.
4. Senyawa organik di dalam proses penguraiannya dapat mengambil zat asam dari air terlalu banyak, sehingga membahayakan kehidupan di tempat itu.
5. Air sungai yang mengalir berlebihan ke perairan pantai dapat membentuk lapisan yang menghalangi pertukaran massa air dengan lapisan air yang lebih subur dari bawah. Pencemaran limbah ke lingkungan perlu diperhatikan dan diantisipasi dengan baik, lebih-lebih terhadap air sungai, karena air sungai dipakai penduduk untuk berbagai keperluan. Pencemaran sungai oleh air buangan ditinjau dari sudut mikrobiologi antara lain : pencemaran bakteri patogen dan non patogen serta bahan organik. Banyaknya bahan organik akan merangsang pertumbuhan mikroorganisme menjadi pesat.
Hal ini mengakibatkan pemakaian oksigen akan cepat dan meningkat, akibatnya kadar
oksigen terlarut dalam air akan menipis dan menjadi sedikit sekali, yang akhirya mengakibatkan mikroorganisme dan organisme air lainnya yang memerlukan oksigen mati. Ekologi air akan berubah
drastis. Keadaan menjadi anaerobik, sehingga air sungai busuk, dan tidak sehat bagi pertumbuhan mikroorganisme flora dan fauna air itu. Lingkungan hidup yang
demikian ini sudah rusak dan tidak layak lagi bagi kebutuhan hidup kita.
Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai cara penanggulangan pencemaran air antara lain:
a) Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
b) Tidak membuang sampah ke sungai.
c) Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
d) Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem.
e) Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih agar sumber-sumber air bersih lainnya tidak tercemar.
Cara penanggulangan pencemaran air lainnya adalah melakukan penanaman pohon. Pohon selain bisa mencegah longsor, diakui mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Itu sebabnya banyak bencana banjir akibat penebangan pohon secara massal. Padahal, pohon merupakan penyerap air paling efektif dan handal. Bahkan, daerah resapan air pun dijadikan pemukiman dan pusat wisata. Pohon sesungguhnya bisa menjadi sumber air sebab dengan banyaknya pohon, semakin banyak pula sumber-sumber air potensial di bawahnya.
Dalam menyikapi permasalahan Beberapa cara penanggulangan pencemaran air tersebut di antaranya sebagai berikut.
• Mengurangi beban pencemaran badan air oleh industri dan domestik.
• Mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor dan industri.
• Mengawasi pemanfaatan B3 dan pembuangan limbah B3.
• Mengembangkan produksi yang lebih bersih (cleaner production)
BAB III
PEMBAHASAN
Ekosistem air tawar adalah suatu bentuk menyeluruh atau tatanan yang ada di dalam air tawar dan sekitarnya yang terdiri dari makhluk hidup di dalam air tersebut dan lingkungan air tawar itu sendiri. Ekosistem air tawar sering dikatakan juga sebagai perairan darat (Kimball, 1991). Adapun ciri-ciri ekosistem air tawar menurut Kimball (1991) adalah sebagai berikut:
1) Salinitas (kadar garam) rendah, lebih rendah jika dibandingkan dengan sitoplasma
2) Adanya aliran air (arus), hal ini amat menentukan distribusi gas yang vital, garam mineral dan organisme kecil.
3) Variasi suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar.
4) Penetrasi (masuknya) cahaya matahari terbatas/kurang.
5) Ekosistem air tawar tetap dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, meskipun pengaruh tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan ekosistem darat.
6) Perubahan ketinggian air terlihat nyata sekali , misalnya pada waktu musim hujan air sungainya tinggi (berlimpah) dan musim kemarau terlihat sedikit (kekeringan).
7) Kadar oksigen terlarut pada ekosistem air tawar relatif lebih tinggi
8) Intensitas cahaya yang diterima pada ekosistem air tawar cukup tinggi, walaupun karena berbagai faktor penetrasi cahaya matahari ke dalam air agak berkurang.\\Secara fisik dan biologis ekosistem ait tawar merupakan perantaraan ekosistem darat dan laut, yang sering disebut sebagai air payau (lingkungan estuari), estuarin merupakan lingkungan lingkungan perairan setengah tertutup di pinggiran daratan yang terpengaruh oleh pasang surut air laut.
9) Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya adalah tumbuhan biji.
Sumber Daya Air merupakan suatu nilai ekonomi, sehingga pemanfaatan nya sering dilakukan secara besar-besaran oleh pemerintah daerah maupun masyarakat sekitarnya. Akan tetapi, kenyataan di lapangan air sungai mengalami banyak pencemaran. Oleh karena itu Pemerintah mengeluarkan Peraturan yang berkaitan dengan sungai.
Pasal 30 ayat (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, menyatakan :
(1) Pemanfaatan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemanfaatan untuk :
a. Rumah tangga;
b. Pertanian;
c. Sanitasi lingkungan;
d. Industri;
e. Pariwisata;
f. Olahraga;
g. Pertahanan;
h. Perikanan;
i. Pembangkit tenaga listrik; dan
j. Tarnsportasi.
(2) Pengembangan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tidak merusak ekosistem sungai, mempertimbangkan karakteristik sungai, kelestarian keanekaragaman hayati, serta kekhasan dan aspirasi daerah/ masyarakat setempat. Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, menyatakan:
(1) Pemanfaatan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan :
a) Mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat dalam system irigasi yang sudah ada; dan
b) Mengalokasikan kebutuhan air untu aliran pemeliharaan sungai.
(2) Dalam melakukan pemanfaatan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang :
a. Mengakibatkan terjadinya pencemran; dan
b. Mengakibatkan terganggunya aliran sungai dan/ atau keruntuhan tebing sungai. Pasal 57 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, menyatakan :
(1) Setiap orang yang akan melakukan kegiatan pada ruang sungai wajib memperoleh izin.
(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a) Pelaksanaan kontruksi pada ruang sungai;
b) pelaksanaan kontruksi yang mengubah aliran dan/atau alr sungai;
c) pemanfaatan bantaran dan sempadan sungai;
d) pemanfaatan bekas suungai;
e) pemanfaatan air sungai selain untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat dalam sitem irigasi yang sudah ada;
f) pemanfaatan sungai sebagai penyedia tenaga air;
g) pemanfaatan sungai sebagai prasarana transportasi;
h) pemanfaatan sungai di kawasan hutan;
i) pembuangan air limbah ke sungai;
j) pengambilan komoditas tambang di sungai; dan
k) pemanfaatan sungai untuk perikanan menggunakan karamba atau jjarringapung.
Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, menyatakan:
Pemegang izin kegiatan pada ruang sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 wajib :
a. Melindungi dan memelihara kelangsungan fungsi sungai;
b. Melindungi dan mengamankan prasarana sungai;
c. Mencegah terjadinya pencemaran air sungai;
d. Menanggulangi dan memulihkan fungsi sungai dan pencemaran air sungai;
e. Mencegah gejolak sosial yang timbul berkaitan dengan kegiatan pada ruang sungai; dan
f. Memberikan akses terhadap pelaksanaan pemantauan, evaluasi, pengawasan dan pemeriksaan.
Danau adalah salah satu ekosistem perairan air tawar yang memilki arus tidak kuat (non lotik)
Adapun manfaat danau adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi kebutuhan air sehari-hari
2. Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
3. Sarana Irigasi
4. Membantu Proses Produksi Barang
5. Sarana rekreasi menarik
6. Memelihara ikan air tawar
7. Pengembangan nilai budaya
8. Sebagai sarana edukasi dan penelitian ilmiah
9. Sebagai sarana penunjang transportasi untuk mendukung mobilitas penduduk
10. Sebagai wadah resapan air tanah sehingga dapat membantu mengendalikan banjir dan erosi
11. Membantu mengatur keanekaragaman hayati
12. Membantu proses pembentukan tanah
13. Membantu menjaga siklus zat-zat yang berguna bagi makluk hidup sekitar
14. Sebagai sumber kekayaan hewani seperti udang, ikan, dan sebagainya
Air karst adalah ekosistem perairaan air tawar berjenis lotik (arus ridak kuat). Adapun peranan air karst adalah sebagai berikut :
a. Air karst berperan Sebagai tempat tinggal dan menetap
Kawasan karst ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti tempat tinggal dan menetap. Misalnya di Gunung Kidul, kawasan ini sudah digunakan untuk tempat tinggal sejak zaman nenek moyang. Selain itu, ada pula yang melubangi tebing bukit karst menjadi makam, misalnya makam batu Lemo yang terdapat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
b. Sebagai daerah penyimpanan air bersih
Meskipun kawasan karst memiliki kenampakan yang gersang, tapi kawasan ini mempunyai peran yang sangat penting, karena dapat digunakan sebagai daerah penyimpan air bersih untuk mencukupi kebutuhan air di daerah sekitarnya. Batuan yang membentuk karst mempunyai banyak celah dan rongga, sehingga air dapat meresap dengan baik, sampai ke lorong sungai bawah tanah.
c. Sumber bahan tambang
Karst bukan hanya berperan penting dalam menyediakan air bersih, tapi juga menjadi sumber bahan tambang, yaitu tambang batuan gamping, yang dapat diolah menjadi aneka bahan bangunan, seperti kapur dan semen. Objek wilayah karst in sangat cocok untuk wilayah pertambangan karena berasal daro pelapukan hewan jutaan tahun yang lalu.
d. Sebagai obyek wisata
Jenis karst di Indonesia sangat banyak salah satunya adalah kawasan karst dengan pemandangan yang unik dan indah, sehingga dapat dijadikan sebagai obyek wisata alam serta banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Diperkirakan terdapat sekitar 15,4 juta hektar di Indonesia yang bersebar dari Aceh sampai Papua. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang terkenal yaitu Gunung Kidul, yang terdapat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang diperkirakan terbentuk sejak 470 juta tahun yang lalu.Bukan hanya di Indonesia, keistimewaan alam dari bentang alam karst seperti gua dan mata air yang menjadi penciri khas daerah karst, sehingga menjadi area dengan pemandangan spektakuler juga ada di negara-negara lainnya, contohnya termasuk dataran runtuhan dan gua-gua di Kentucky tengah, mata air besar sebening kristal di Florida, dan gua-gua New Mexico yang rumit dan didekorasi dengan indah.
Adapun permasalah ekosistem perairan air tawar sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia. Masalah yang utama adalah pencemaran. Menurut Dinas Lingkungan hidup Indonesia, 75 % perairan sungai Indonesia sudah tercemar. Air tanah indonesia mengalami pencemaran air berat sebesar 2,5 %. Sedangkan pencemaran pada danau kebanyakan diakibatkan oleh Eutrofikasi akibat limbah rumah tangga. Melihat fakta diatas, kita sebagai masyarakat perlu melakukan hal yang mencegah pencemaran dalam air tawar.
Sering kali organisme penyebab infeksi enterik tersebut diakibatkan oleh kondisi lingkungan rumah yang kotor dan tidak sehat. Hal tersebut juga sering diakibatkan oleh pencucian tangan yang kurang bersih pada waktu buang kotoran. Salah satu faktor adalah perlunya peningkatan ketersediaan air bersih dalam sarana sanitasi. Akhir-ahkir ini mulai banyak dijual tisu basah atau dalam bentuk cairan, yang mengandung disinfektan dan mulai banyak digunakan dalam kalangan terbatas. Penyakit bisa juga terjadi akibat makanan atau minuman yang dijual oleh penjaja atau warungwarung yang kebersihannya kurang memandai. Salah satu cara yang paling sederhana untuk
mencegahnya adalah menghindarinya.
Kebersihan lingkungan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatkan kebersihan lingkungan adalah peningkatan pelayanan air bersih, disamping itu perlu diupayakan perbaikan pada sistem pembuangan limbah atau pengolahan kotoran manusia (tinja), serta dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan atau lebih luas lagi mengenai
kesehatan lingkungan.
Adapun penanggulangan dari pencemaran pada air tawar Indonesia dapat dilakukan sebagai berikut :
a) Pengaturan Tata Ruang
Tata Ruang memegang peranan penting dalam pengelolaan lingkungan. Tata Ruang yang baik mengatur pemanfatan ruang dengan mempertimbangkan beban lingkungan yang akan muncul jika ruangnya sudah terpakai. Tata Ruang yang berwawasan lingkungan akan menghasilkan model-model kota atau desa yang akrab dengan lingkungan atau yang sekarang dikenal dengan "eco city". Untuk kota lama yang sudah terbangun memang sulit untuk menatanya kembali, namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan bantuan penegakan hukum dan pembinaan yang terus menerus serta sosialisasi yang baik hal itu bisa dilakukan.
b) Aspek Legal : Pembinaan Dan Penegakan Hukum
Pemerintah berperan sangat penting, terutama dalam penegakan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Keputusan Gubernur atau Bupati. Peraturan lingkungan banyak berubah dan bertambah dari tahun ke tahun, oleh karena itu perlu terus dilakukan sosialisasi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat. Pelanggaran lingkungan banyak terjadi karena sebagian masyarakat belum membaca atau memahami peraturan-peraturan yang ada,
mengingat isu lingkungan masih relatif baru buat Indonesia dan penegakan hukumnya masih sangat minim dibanding kasus-kasus lain. Penegakan peraturan harus diikuti pula oleh monitoring yang handal untuk mendukung data-data pencemaran. Pembuktian kasus pencemaran merupakan salah satu kelemahan yang sering terjadi dan kondisi ini mempersulit dalam penegakan hukum lingkungan di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan laboratorium lingkungan yang independen dan terakriditasi dan mempunyai sertifikasi secara internasional guna mendukung penegakan hukum.
Dalam rangka pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dipergunakan
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. Dalam pasal 8, PP No 82 Tahun 2001 dikenal
kriteria mutu air berdasarkan kelas, dimana klasifikasinya adalah sebagai berikut :
v Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
v Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana / sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan ,air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
v Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut;
v Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi, pertamanan dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990. Pada PP. No. 82 tahun 2001 ini sudah tidak terdapat lagi kelas air yang siap dapat diminum, seperti Golongan A pada PP. No. 20 tahun 1990. Kelas terbaiknya adalah air yang peruntukkannya digunakan sebagai air baku air minum (Lampiran
1). Dengan adanya Pada PP. No. 82 tahun 2001, sebaiknya diikuti oleh pengkelasan badan air.
Dengan demikian bagi Industri atau Pemukiman yang membuang limbah di badan air tersebut akan mempertimbangkan kelas peruntukkan badan air. Titik kritis perhatian terletak pada
badan air yang termasuk dalam kelas satu.
Dalam kondisi seperti itu apakah mungkin baku mutu air dapat berbeda dari yang ditetapkan oleh Kepmen No. 51/MENLH/10/1995. Dengan Adanya otonomi daerah, pemerintah daerah sangat memungkinkan untuk mengeluarkan Perda yang aturannya lebih ketat dari Kepmen No. 51/MENLH/10/1995, dengan demikian sumber air baku untuk minumnya dapat terlindungi.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah Ekosistem perairan air tawar manfaat dan masalah kelastariannya adalah sebagai berikut
1) Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara faktor Abiotik dan Biotik. Faktor biotik adalah adalah makhluk hidup sedangkan faktor abiotik faktor berdasarkan lingkungan seperti suhu, kecerahan air, Dissolved Oksigen dan pH.
2) Ekosistem air tawar memiliki komponen yaitu biotik (makhluk hidup) dan abiotik (suhu, cuaca, cahaya matahari). Ekosistem air tawar memiliki dua jenis yaitu ekosistem perairan lotik (sungai) dan nonlotik(danau, waduk, rawa, karst dan telaga dan)
3) Ekosistem air tawar sangat berperan kepada manusia mulai dari budidaya perikanan, air minum, Pertanian; Sanitasi lingkungan; Industri; Pariwisata; Olahraga;Pertahanan; Perikanan; Pembangkit tenaga listrik; dan Tarnsportasi.
4) Masalah Ekosistem Air tawar adalah Pencemaran
DAFTAR PUSTAKA
Aksara. Merliyani.2017. Ekologi Perairan. Universitas Nusantara PGRI Kediri. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Retrieved from. http://ww.albayan.ae
Irwan, Z.D., (2007). Prinsip-prinsip Ekoslogi ;Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya. Jakarta :Bumi
Mulyadi, A. (2010). Pengetahuan Lingkungan Hidup. Bandung : Prisma Press
Muhtadi, A., Cordova , M.R. 2016. Ekologi Perairan Air tawar. Diakses dari htttps.//www.researchgate.net/publication/2991190202.
Odum,E.p.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh Ir.T Samingan. Gajah Mada Univ. Press.Yogyakarta
Pemerintah Republik Indonesia . 2011.Peraturan Pemerintah No 38. Tahun 2011 Tentang Sungai. Lembaran Negara RI Tahun 2011. Sekretarita Negara , Jakarta.
R. Effendi, H.Salsabila, dan A. Malik, PEMAHAMAN TENTANG LINGKUNGAN BERKELANJUTAN,”MODUL, vol 18, 2, hlm 78-82, November 2018
Republik Indonesia, 2001, Undang-undang Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Presiden Republik Indonesia, Sekretariat Negeri, Jakarta.
S. Rososoerdarmo, R.S. Kartawinata , K., Soegiarto, A. (1984). Pengantar Ekologi. Bandung: Remaja Karya
Samodra, I. 2006. Ekosistem Karst. Bandung: Gajah Mada Press
Tansley, A.G. (1935). The Use and Abuse of vegetational concept and terms. Ecology.
Utomo, et al. 2014. Ekologi : Pengertian Ruang Lingkup Ekologi dan Ekosistem. Jakarta : Universitas Terbuka Press.
Comments
Post a Comment