Makalah Pemikiran Ismail Raji’ al-Faruqi
Pemikiran Pendidikan Islam Ismail Raji’ al-Faruqi
Diajukan Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam
Disusun Oleh
Jurnal Tugas
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan judul “Pemikiran Pendidikan Islam Ismail Raji’ al-Faruqi”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Pmikiran Pendidikan Islam. Penyusunan makalah ini bertujuan menambah wawasan kepada pembaca tentang “Pemikiran Pendidikan Islam Ismail Raji’ al-Faruqi”.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu yang memberikan arahan dan bimbingan demi selesainya pembuatan Makalah ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.
Korea Selatan , 05 Juni 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar...............................................................................
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN 1
1.Latar Belakang Masalah 1
2.Rumusan Masalah 1
3. Tujuan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
1.Biografi Raji’ al-Faruqi 3
2.Pemikiran Al.Faruqi
l. Tauhid sebagai Essensi Pendidikan Islam
2. Pemikirrin dalam Pendidikan Islam
BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam adalah sebagai sarana untuk mentransformasikan ajaran Islam dari generasi ke generasi. Pendidikan Islam sebagai proses perkembangan, di dunia muslim telah mengalami pasang surut dan perubahan mengikuti arus perkembangan politik bangsa-bangsa di mana pendidikan itu berlangsung.
Berbagai ilmuan atau tokoh pendidikan lahir di sepanjang zaman mulai yang dianggap sekuler, modernis, tradisional, atau norrnatif, maupun kontemporer. Demi mewujudkan tujuan yang sama yaitu mewu.judkan pendidikan Islam yang terbaik dengan sudut pandang masing-masing.
Raji al-Faruqi tampaknya mengikuti alur permainan kedua tokoh islam kontemporer yaitu Muhammad Abdul Wahab dan Muhammad Abduh tentang pemikiran berdasarkan kemurnian ajaran Islam. Al-Faruqi menuangkan gagasan pemikirannya tersebut dalam Tauhid scbagai esensi ajaran Islam dan prinsip segala kehidupan ummat.
Aspek pendidikan yang merupakan pokok masalah terjadinya kemorosotan, kemunduran, keterbelakangan ummat, sekaligus yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi bangsa-bangsa Islam di dunia tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya usaha islamisasi ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan, yang memberi warna pendidikan sesuai dengan visi-visi keislaman adalah solusinya menurut Raji al-Faruqi.
Al-Faruqi sangat menyesalkan dampak dari pendidikan sekuler yang telah diadopsi oleh para pendahulunya yang sekuler, dan ia mengkritik dengan tajam para cendekiawan yang berusaha melakukan reformasi dengan cara westernisasi. Hal ini karena perbedaan dengan identitas Islam itu sendiri, sehingga produknya akan merusak tatanan kehidupan ummat Islam dan mereka tidak akan pernah rnendapatkan yang diinginkan seperti yang diperoleh oleh Barat. Oleh karena itu, langkah satu-satunya yang akan membawa ummat mampu bangkit kembali dan melahirkan kemajuan menurut al-Faruqi adalah harus berpijak kepada ajaran Islam, karena Islam selalu sesuai dengan keadaan dan segala zaman.
Masalah yang dihadapi umat Islam adalah terjadinya dikotomi pendidikan Islam dengan pengetahuan modem yang berasal dari Barat. Barat telah mengklaim bahwa pendidikan Barat adalah pendidikan yang maju punya solusi yang membawa cita-cita ke depan. Banyak sarjana-sarjana muslim yang belajar di Barat tidak memiliki otonomi keilmuan tersendiri karena tidak diberi oleh Barat dalam konteks mandiri. Sarjana-sarjana itu hanya dapat berbuat hasil-hasil jiplakan dari para ahli Barat. Hal ini disebabkan kekhawatiran mereka akan terjadinya transformasi ilmu pengetahuan ke dunia Islam. Setelah tasawuf dan tariqat memasuki dunia Islam seolah-olah pintu ijtihad sudah tertutup, pendidikan Islam tidak menerima inovasi, arahan dari kurikulum pendidikan yang bersifat tradisional mengacu hanya pada hal-hal yang bersifat syari'ah, seolah-olah pengetahuan eksak seperti astronomi, fisika, kimia kedokteran dan lain-lain sebagainya yang telah dipunyai dunia Islam zaman klasik terabaikan. Hal ini disebabkan tradisi kebudayaan Islam di dalam kurikulum pendidikan tidak lagi dijadikan mata kuliah wajib di perguruan tinggi di madrasah-madrasah sedangkan tradisi Barat di ajarkan dengan konsisten dan penuh keseriusan merupakan bagian dari program inti yang diwajibkan, hal inilah yang mendorong AI Faruqi mengetengahkan ide Islamisasi ilmu pengetahuan.
2. Rumusan Masalah
1. Siapakah Raji’ al-Faruqi ?
2. Bagaimana konsep pemikiran Raji’ al-Faruqi tentang pendidikan Islam?
3. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui biografi Raji’ al-Faruqi.
2. Untuk mengetahui konsep pemikiran Raji’ al-Faruqi tentang pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Biografi Raji’ al-Faruqi
Al-Faruqi adalah seorang aktivis dan sarjana muslim yang sangat produktif. Dia memperoleh pendidikannya yang membawa dia menguasai tiga bahasa; bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Prancis, dan sekaligus membuat dia sebagai pemikir dan cendekiawan dalam multikultural. Al Faruqi belajar awalnya di masjid, setelah itu ia mengikuti sekolah Katolik Prancis, College des Peres (tahun 1926-1936). Al-Faruqi kemudian meraih gelar sarjana mudanya di American University, selesai tahun 1941. Setelah itu ia mulai menjabat kepegawaiannya sebagai Gubernur calilee. Hal inilah yang membuat al-Faruqi bermigrasi ke AS setelah Galilee jatuh menjadi provinsi dalam kekuasaan Israel tahun 1947.
Al-Faruqi melanjutkan sekolahnya dengan jenjang yang lebih tinggi yaitu ke Indiana University untuk meraih gelar MA dalam bidang Filsafat. Dua tahun kemudian dia memperoleh gelar master kedua dari Harvard University, kemudian dia meraih gelar doktornya di Indiana university dengan desertasi yang berjudul: On Justifuing: Metaphysic and Efestomologlt of value". Dia juga mengambil kuliah Islam di Pasca sarjana university al-Azhar, Qairo.
Karir akademik al-Faruqi dimulai sebagai dosen di McGill university, Kanada pada tahun 1959. Sementara itu ia menyempatkan diri untuk mendalami Judaisme dan Kristen. Pada tahun 1961, ia pindah ke Karachi, dan bergabung dengan Central Institut for Islamic Research dan mengelola jurnal pada Islamic studies. Pada tahun 1963, dia kembali mengajar di fakultas Agama pada university of chicago. Dia kemudian memulai program kajian Islam di Syracus University, New york, pada tahun 1968 ia pun pindah ke Temple university Philadelpia sebagai guru besar Agama dan mendirikan pusat kajian Islam. Di sinilah dia menetap sampai akhir hidupnya. Al-Faruqi bersama isterinya meninggal sebagai korban pembunuhan."
Al-Faruqi terkenal sebagai ilmuan yang sangat produktif sekali dalam pemikiran Islam dan pendidikan Islam serta ilmu-ilmu lainnya. Ia menulis sekitar 100 artikel dan 20 buah buku. Melalui tulisan-tulisan inilah ide-ide atau pemikirannya menyebar Iuas di negara-negara Islam cli seluruh dunia. selain itu, dia juga aktif menjadi dosen tamu di beberapa universitas di berbagai negara, seperti Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara. Dia telah bergabung pada tujuh jurnal terkemuka.
Al-Faruqi kemudian membentuk Islamic Studies untuk melatih pelajar-pelajar muslim dan dia juga telah menjadi pimpinan Islamic Studies Steering Commitee di fakultas Agama Amerika pada tahun 1976-1982. Dia menjadi piminan di berbagai organisasi seperti Asosiasi Pelajar Muslim, asosiasi ahli Sain Sosial Muslim. Dia juga menjabat sebagai presiden American Islamic Collage di Chicago, dan pada tahun 1981, dia membentuk institut International Kajian Islam di Vergenia.
Al-Faruqi juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Kajian Islam Internasional. Dia kemudian dipercayakan untuk rnengedit buku tentang Islamisasi Pengetahuan, yang bersumber dari dua makalahnya yang disampaikan dan kemudian disempurnakan dengan berbagai masukan dari hampir 50 peserta konferensi yang mengambil bagian dalam konferensi Pendidikan Islam yang diadakan di Islamabad, Pakistan. Dari sanalah akhirnya wacana islamisasi ilmu pengetahuan berkembang.
2. Pemikiran Al. Faruqi
l. Tauhid sebagai Essensi Pendidikan Islam
Al-Faruqi walaupun dilatar belakangi dengan pendidikan Barat, namun demikian persentuhannya dengan dunia Barat justru mengokohkan keyakinannya terhadap keunggulan ajaran Islam, yang dituangkannya dalam bukunya tentang Tauhid. Tauhid menurutnya merupakan essensi dan inti ajaran Islam. Tauhid merupakan pandangan umum dari ralitas kebenaran ruang dan waktu, serta sejarah dan nasib manusia. Sebagai filsafat dan pandangan hidup, Tauhid memiliki implikasi dalam sejarah pengetahuan, filsafat, etika, sosial, ummat, keluarga, ekonomi, maupun estitika.
Senada dengan pandangan Muhammad lqbal, al-Iiaruqi berpandangan bahwa "Islam itu relevan dengan semua aspek pemikiran, kehldupan dan keadaan (being).Oleh karena itu, dalam setiap gerakan kehidupannya, manusia harus sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Tauhid,lslam. Sebagai dasar yang melandasi al-Faruqi dalam pembaharuannya adalah pemikirannanya tentang Tauhid sebagai intisari ajaran Islam, tidak ada clasar lain menurutnya ying bisa membawa kepada keberhasilan. Dia mengatakan ummat muslim dunia tidak akan bisa bangkit kembali menlmpati kedudukannya sebagai ummatan wasathan, kecuali jika dia kembali berpijak pada islam. Konsep manusia muslim tentang dirinya sebagai khalifah, menjadikannya pusat putaran sejarah manusia.
Pandangan al-Faruqi tampaknya selalu dikembalikan kepada sumber normativitas, di mana Tauhid merupakan dasar dari segala kehidupan ummat manusia, dan tujuan akhir kehidupannya adalah kembali kepada Tuhan. Tauhid menurutnya merupakan inti pengalaman agama, sebagai intisari ajaran Islam, menjadi prinsip pengetauan, metafisika, etika, tata sosial, prinsip ummat, prinsip keluarga, politik, ekonomi dan lain-lain. Hal ini sebagaimana digambarkannya dalam buku yang berjudul Tauhid: its implication for though and life.
Dunia Islam sekarang mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan. Ini menempatkan ummat Islam pada posisi anak tangga terbawah dari bangsa-bangsa di dunia. Dalam keadaan seperti ini masyarakat muslim melihat kemajuan Barat sebagai sesuatu yang mengagumkan dan menyebabkan sebagian mereka tergoda oleh kemajuan Barat tersebut, sehingga berupaya untuk mengadakan reformasi dengan westernisasi. Tetapi ternyata jalan yang ditempuh itu menghancurkan ummat Islam sendiri, sebab dengan mendasarkan kepada westernisasi, mengubah pandangan hidup, menyebabkan ideologi yang berbeda dari yang sudah diterima, nilai-nilai yang jauh berbeda dengan nilai-nilai Islam.
Seiring pandangan al-Faruqi, Abdul Gani Abud dalam bukunya yang berjudul fi al-Tarbiyah al-Islamiyafi, melontarkan kritik tajam terhadap pakar pendidikan Islam yang turut berkiblat kebarat-baratan, karena mereka tidak memahami banyak tentang budaya pendidikan Islam itu sendiri. Hal ini merupakan kesalahan internal yang sangat besar dari umat Islam, atau yang dinamakan al-Faruqi dengan sebagai gejala kehilangan visi di kalangan ummat Islam, adalah merupakan krisis mentalitas muslim dewasa ini.
Keadaan tersebut akhirnya lebih jauh menyebabkan integritas kultur Islam menjadi terpecah dalam diri mereka sendiri, terpecah dalam pemikiran, dan perbuatan. Bahkan lebih tegas al-Faruqi menganggapnya sebagai usaha de-islamisasi.Jamal Barzinji menjelaskan terjadinya pemikiran di kalangan ummat Islam tersebut yang kemudian melatarbelakangi diadakannya konferensi pendidikan Islam di dunia Islam.
Krisis mentalitas ini senantiasa memperburuk kondisi ummat Islam jika dibiarkan berlarut-larut, dan usaha untuk mengatasinya belum terlihat nyata, belum menghasilkan konsep dasar dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, pendidikan tidak menghasilkan muslim yang diharapkan, karena pendidikan yang mereka terima cenderung menjauhkan mereka dari visi lslam.
Satu hal yang mendasari pendidikan Islan dibedakan dari pendidikan Barat adalah sifat dan tujuannya yang mengacu pada wawasan tentang Yang Kudus. Menurut C.A. Qadir, pengetahuan di Barat telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan yang sebenarnya. Oleh karena itu, perlu disadarkan agar para pakar pendidikan kembali kepada budaya pengetahuan dan pendidikan Islam yang memiliki karakreristik yang unggul. Usaha ini senada dengan apa yang dilontarkan oleh al-Faruqi denngan islamisasi illntr pengctah-uan, agnr ilmu pengetahuan Serasi dengan ajaran 'l'auhid dan aiaran Islam.
Ilmu pengetahuan dalam lslam tidak terlepas dari ideologi Islam yang mendasarinya. Islam adalah potensi fitrah ummat manusia yang mengakui dan rnengabdi hanya kepada Allah.Potensi fitrah inilah yang mengangkat eksestensi manusia di bumi ke posisi yang rnulia sebagai khalifah Allah. Untuk misi kekhalifahan, ilmu pengetahuan pada akhirnya yang mampu menghantarkan manusia untuk menjalankan tugasnya melaksanakan kemakmuran di muka bumi ini.
Wawasan tentang yang kudus yang telah menghilang dari konsep Barat dalam teori pengetahuan merupakan titik sentral dalam teori Islam tentang pengetahuan. Sesungguhnya yang membedakan cara berpikir Islam dari Barat adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan dari cara berpikir bahwa adanya keterkaitan yang mendasar antara ilmu pengetahuan dengan ideologinya (agama). Tidak dibedakan antara ilmu agama dan umum, duniawi dan ukhrawi, semuanya menuju pada satu tujuan yang bersumber dari nilai-nilai llahi.
Menjauhnya ummat Islam dari identitas sendiri dan mengadopsi pemikiran gaya Barat membuat krisis yang sangat jauh dalam segenap aspek kehidupan ummat. Hal ini sudah dianggap semakin parah dan perlu pemikiran terhadap upaya pengobatannya.
Adapun penyebab dari krisis tersebut monurutnya disebabkan oleh dua faktor pemicu, yaitu pertama: serangan gencar budaya dan pendidikan Barat, terutama dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu tentang manusia. Akibatnya para pemimpin dan intelektual muslim terlihat dalam ilmu pengetahuan Barat tanpa menyadari bahwa ilmu pengetahuan sekuler tersebut dikembangkan dalam pandangan yang sama sekali asing menurut pandangan Islam. Ilmu pengetahuan Barat menggambarkan pengalaman Barat yang sama sekali menolak wahyu sebagai sumber bimbingan dan ilmu pengetahuan. Sebagai konsekuensinya terdapat di antara kaum intelektual muslim yang terbelah oleh nilai ajaran Barat pada satu sisi dan keyakinan Islam pada satu sisi yang lain. Menurut Berzinjirisis demikian lah yang mempe{parah sistem pendidikan Islarn. Tsudaya Barat ini melahirkan sarjana-sarjana muslim yang asing dengan budaya dan nilai budaya Islam sendiri. Kehilangan identitas ini selanjutnya menrunculkan konflik dualisme pendidikan. Kedua; Jurang pemisah antara intelektual Islam dan warisan Islam. Nurani dan budaya Islam tslah terwujud dalam warisan Islam yang tidak dapat diperoleh di universitas -universitas sekuler.
Usaha de-islamisasi sudah menambah persoalan dalam berbagai kehidupan ummat tidak terkecuali dalam aspek pendidikan, di mana merupakan masalah pokok muslim dan sekaligus yang harus rnenjawab problem tersebut. Dewasa ini dunia pendidikan Islam telah banyak dipengaruhi berbagai etika, sehingga memberi dampak negatil' terhadap sistem pendidikan dan kehidupan ummat Islam. Telah terjadi pergeseran sumber rujukan akhlak yang islami ke sumber-sumber yang bukan islarni. Keadaan ini akhirnya yang dapat eclahirkan dualisme dalarn sistem pendidikan, kehidupan dau akhlak. Dualisme pcndidikan menrbedakan antara sistem pendidikan Islam tradisional, dan di sisi iain sekuler yang mampu menarik dan mempengaruhi perhatian ummat ketimbang pendidikan tradisional. Padahal satu hal yang mendasari pendidikan Islam dibedakan dari pendidikan Barat adalah sifat dan tujuannya yang mengacu pada wawasan tentang Yang Kudus. Menurut C.A. Qadir, pengetahuan di Barat telah menjadi problematik karena telah kehilangan tujuan yang sebenarnya.
Menurut al-Faruqi, untuk mengatasi dualisme pendidikan itu adalah dengan mengintegrasikan kedua sistem pendidikan itu, lalu memberinya warna baru dengan visi keislaman. Apabila masalah pendidikan dapat diselesaikan akan mampu mengatasi masalah-masalah lainnya, karena pendidikan adalah pokok segala masalah dalam kehidupan.
Konsep integratif ini sebenarnya jauh sebelum al-Faruqi, telah dilakukan oleh seorang tokoh pembaharuan pendidikan Islam di Pakistan, Muhammad lqbal. Dia menganggap kesalahan dunia pendidikan Islam adalah karena telah adanya sistem dualisme pendidikan: pendidikan sekuler dan tradisional, di mana sistem pendidikan sekuler tidak hanya memberikan pendidikan materialistis yang tidak serasi dengan nilai-nilai-nilaikcmanusiaan yang lebih tinggi, khususnya dengan budaya spritual Islam, tetapi juga rncngindoktrinasi generasi muda dengan suverioritas dan hegamoni peradaban Barat. Dalam hal ini, sisebut oleh sarjana Barat sendiri, Toffler, "peradaban Barat telah kehilangan apa yang disebut dengan super itleologi sehingga menyebabkan peradaban Barat menjadi kcring dari nilai spritual.
Pendidikan Islam tradisional di sini tidak mampu menjawab tantangan modernitas, baik dalam budaya maupun pendidikan itu sendiri, sehingga mengakibatkan munculnya dualisme pendidikan dan kebudayaan. Di satu sisi sistem tradisional melahirkan tokoh-tokoh tradisional yang konservatif, dan pendidikan sekuler mengakibatkan generasi yang sekuler pula. Oleh karena itu, gagasan Iqbal untuk mengatasi problema ini, ia menawarkan gagasannya untuk mencari sistem pendidikan yang terbaik yang mampu melahirkan manusia yang berkepribadian, yang berpengetahuan, dan dinamis, yaitu apa yang disebutnya dengan sistem integratif. Namun sejauh yang, dilakukan lqbal, upaya tersebut dalam perwujudannya belum nampak.
Usaha tersebut akhirnya nampak ditindaklanjuti oleh pakar dan sarjana muslim kontemporer, seperti Syed Hussein Nasr, Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, dan Ismail Raji al-Faruqi. Konsep pendidikan Islam yang mereka usahakan adalah ingin meninggalkan metode asal tiru dari Barat yang melahirkan sekularisme yang membahayakan itu, kemudian menggantikannya dengan konsep pendidikan baru yang mereka wujudkan dalam reformasi pendidikan Islam dalam satu wacana islamisasi pengetahuan. Dalam hal ini, menurut usulan al-Faruqi, semua disiplin ilmu modern diberikan tujuan-tujuan dan visi baru yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus ditempa kembali sehingga memberikan relevansi Islam sepanjang ketiga sumbu Tauhid berikut:
Pertama adalah kesatuan pengetahuan di mana semua disiplin mencari obyektif dan rasionalitas tentang pengetahuan mengenai kebenaran, sampai tidak ada perbedaan yang mencolok antara di satu sisi,disiplin bersifat ilmiah mutlak dan di sisi lain dogmatis relatif. Kedua kesatuan hidup; ke semua disiplin mempunyai nilai-nilai yang sama dalai.n implikasinya untuk mewujudkan kesadaran dan tujuan mengabdi kepada tujuan penciptaan. Ketiga kesatuan sejarah; dengan berdasarkan kesatuan sejarah ini, menurut al-Faruqi segala disiplin akan menerima sifat humanis di seluruh aktivitas manusia dan mengabdi kepada tujuan urnmat dalam sejarah. Dengan bertumpu kepada sejarah ini semua disiplin keihnuan itu bersifat ltumanitis, tidak bersifat individual atau materialis.
Al-Faruqi seterusnya mengemukakan prinsip metodologi untuk mengaktualisasikan islamisasi ilmu pengetahuan antara lain: l) Kecsaan Tuhan (T'auhid); kesatuan ciptaan (the unity of creation); Kssatuan kebenaran dan kesatuan ilnru pengetahuan (the unity of truth and the unity of knowledg); kesatuan hidup (the unity of life); dan kesatuan ummat manusia (the unity of humanity).Sementara di sisi lain al-Faruqi mengungkapkan dalam tahap sosialisasi ilmu pengetahuan ini dibarengi dengan rencana kerja dan tujuannya adalah:
a. Untuk menguasai disiplin ilmu modern.
b. Menguasai warisan Islam.
c. Menetapkan relevansi khusus pada modem.
d. Mencari jalan sentesa kreatif antara pengetahuan modern.
e. Meluncurkan pemikiran Islam pada jalan yang mengarah pada kepatuhan iterhadap hukum-hukum Tuhan.
Islamisasi pengetahuan sejauh ini masih merupakan suatu wacana yang masih diperdebatkan oleh para pakar pendidikan dan sarjana muslim, seperti yang dilontarkan oleh Amin Aziz, istilah islamisasi perlu dilihat kembali secara kritis yang menunjuk pada proses meng-islamkan. Yang harus diislamkan adalah orang atau manusia bukan ilmu pengetahuan atau apapun obyek lainnya termasuk negara. Jadi yang harus menganut pada prinsip llauhid adnlah pemeluk atau pencari ilmu itu sendiri, bukan ilmunya.
Senada dengan pandangan di atas, Fazlurrahman menyoroti tentang islamisasi pengetahuan, di mana menurutnya "seharusnya kita tidak usah susah memikirkan untuk membuat rencana dan gagasan bagaimana menciptakan ilmu pengetahuan yang islami, narnun yang paling penting adalah bagaimana mcnciptakan para pemikir yang memitiki kapasitas berpikir yang konstruktif dan positif sesuai dengan Islam.
Pardangan yang sama dari usep Fathuddin yang dianggap sebagai pencetus pembaharuan Islam, menanggapi tentang islamisasi ilmu bukanlah karya ilmiah, apalagi karya kreatif sebab yang dibutuhkan ummat dan lebih-lebih lagi bagi para cendikiawan adalah menguasai dan mengembangan ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu merupakan kerja kreatif terhadap karya orang lain. Lebih lanjut ia menegaskan berilmu merupakan perwujudan keagamaan. Berilmu adalah bagian dari keberagamain itu sendiri, se,hingga tidak ada peluang islamisasi dan mementingkan islamisasi.
Pemikiran kalam Al-Faruqi dapat kita ketahui melalui karyanya yang berjudul, Tawhid: Its Implementations for Thought and Life. Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas hakikat Tauhid secara mendalam. Berikut penjelasan Al-Faruqi mengenai Tauhid,
a. Tauhid sebagai inti pengalaman agama
b. Tauhid sebagai pandangan dunia
c. Tauhid sebagai intisari Islam
d. Tauhid sebagai prinsip sejarah
e.Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
f. Tauhid sebagai prinsip metafisika
g. Tauhid sebagai prinsip etika
h. Tauhid sebagai prinsip tata sosial
i. Tauhid sebagai prinsip ummah
2. Pemikiran dalam Pendidikan Islam
a. Pemikiran Al-Faruqi tentang Manusia
Manusia adalah sasaran pendidikan. Menurut Islam pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang, karena itu ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita dan berlangsung seumur hidup (alhadits) - long life education - is the process without end.
Islam mengajarkan bahwa manusia adarah makhluk sebagai hamba Alla dan menjadi wakil-Nya di bumi. Dengan anugerah ini, manusia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari malaikat, dan yang lainnya.Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah. Nengan anugerah ini, manusia mempunyai kedudukan dan derajat yang sangat tinggi. Secara moral ia mampu berbuat misalnya dalam kebebasan, sedangkan para malaikat. Sebagai makhluk manusia mempunyai keinginan, kehendak, serta kemauannya, dapat disadari mutlak ia berdiri tanpa ada bandingannya, maka dia adalah sesuatu yang alami dari yang kosmis, ialah khalifah yang murni. Sebagai pribadi, manusia perlu melakukan tindakan moral, manusia sesungguhnya karya terbesar Tuhan. Dialah satu-satunya makhluk yang perbuatannya manrpu mewujudkan bagian dari kehendak Tuhan dan menjadi sejarah.
Manusia dilahirkan dengan sifatnya yang suci demikian menurut Islam, tegas al Faruqi membantah sejumlah pemikiran Kristen modern yang telah berusaha untuk menegakkan kernbali doktrin lama rnengenai dosa asal yang digambarkan dari hasil penemuan ahli Biologi dan Psikologi yang menganalisa sifat-sifat manusia. Kehendak untuk hidup, memperlahankan hidup, memuaskan nafsu terhadap kesenangan dan kenyamanan, kehendak untuk berkuasa, dan segala egoismenya mcrupakan kecenderungan alamiah manusi sebagai aliran dengan potensi fitrahnya, Allah mempedengkapi manusia dengan pembawaan dan syaratsyarat yang diperlukan. Allah memberinya mata untuk melihat, lidah urrtuk berbicara, telinga untuk mendengar, tangan dan anggota tubuh lainnya untuk berbuat, bergerak, dan mengadakan perubahan. la memberikan pikiran dan akai untuk menemukan dan menagkap hukum alam, mengingat, membaca, menulis, dan berbicara untuk mengumpulkan dan memperkaya pengalaman dan kebijaksanaan.
Semua pembawaan dan potensi manusia itu diarahkan untuk mencapai tujuan akhir manusia menuju Tuhan. Di sini lah betapa pentingnya pendidikan Islam sebagai proses yang membantu membimbing dan mengarahkan manusia untuk rnencapai tujuannya.
Apabila menengok sejarah budaya pendidikan Islam, sebenarnya akan ditemukan karakteristik ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam yang telahmengungguli pendidikan modern sekarang ini. Budaya pendidikan Islam telah menjadi cermin pendidikan modern sekarang ini pada beberapa abad yang silam, yaitu.jauh sebelum kemajuan pendidikan modern yang sekarang berkembang.
Pendidikan Islam harus benar-benar mampu mendekati manusia sebagai makhluk pribadi secora psiologis cran psikologis. Konsep pendidikan seperti ini telah disepakati dalam konferensi dunia tentang pendidikan lslam di Mekkah pada tahun 1977. Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia yang sejak kecil melalui latihan semangat, intelek, rasionalisasi, perasaan, kepekaan rasa tubuh. oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya secara spritual, intelektual, imajinaif, fisikal, ilmiah, linguistik, baiksecara individual maupun secara kolektif di samping motivasi semua aspek tersebut ke arah kebaikan dan kesempurnaan.
Pendidikan harus benar-benar memberikan pembekalan yang seutuhnya, tidak terpisah antara jasmani dan rohani, dan sprituail sebagai pribadi, manusia memiliki fitrah dan potensi untuk keduanya. oleh karena itu, usaha islamisasi pengetahuan itu sangat penting uniuk kehidupan ummat dalam rangka pembekalan pribadi sebagai makhluk sempuma, khalifah Allah di muka bumi.
b. Kurikulum
Menyebarnya pengaruh de-islamisasi adalah disebabkan lemahnya filter yang dimiliki ummat Islam. Identitas keislaman yang seharusnya menjadi tata nilai dan menjadi norma ummat sekarang semikin merojot sehingga tidak bisa membentenginya ketika melawan pengaruh peradaban Barat yang mendekatinya. Identitas muslim dan sistem nilai atau moral itu menurut al-Faruqi adalah terkandung dalam kebudayaan Islam. oleh karena itu, al-Faruqi mengusulkan untuk memerangi nilai-nilai westernisasi dengan islamisasi itu, dan dengan itu perlu sekali dipelajari tentang kebudayaan dan peradaban Islam. Menurut al-Faruqi mahasiswa di univesitas harus rnengambil pelajaran kebudayaan Islam.
Adapun pelajaran pokok berkaitan dengan kebudayaan Islam adalah bahwa kebudayaan Islam diajarkan pada menurut tingkatan pendidikan, khususnya pada tingkat universitas dan juga akademik, akademik mileter dan setiap sekolah tinggi. Kebudayaan Islam itu diajarkan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa, memecahkan masalah-masalah ilmiah, ideologis, dan religius yang mereka hadapi, dan memberi-mereka jawaban yang memadai dan meyakinkan atas pencarian mereka.
Mempelajari kebudayaan Islam ini oleh al-Faruqi diperlukan waktu 4 tahun, sebagaimana yang direkomendasikan oleh konfrensi tersebut agar kebudayaan dan peradaban Islam diajarkan pada setiap tingkatan pendidikan pertama, kedua, ketiga, dan keempat di universitas. Betapa pentingnya mempelajari kebudayaan ini menurut al-Faruqi harus berupaya memberikan kepada mahasiswa muslim pengetahuan mengenai prinsip-prinsip Islam sebagai essensi kebudayaan atau peradaban Islam, atau lebih tegas lagi dinamakan oleh al-Faruqi dengan peradaban Tauhid. Pentingnya peradatan Islam lebih jauh adalah sikap antisipasi yang ditanamkan kepada siswa agar tidak terpengaruh dengun nilai-nilai peradaban yang mampu merusak nilai-nilai kehidupan ummat yang luhur, misalnya peradaban Barat. Betapapun agungnya peradaban ini bagi ummatnya, namun menurut T.S. Eliot hanyalah mampu rnemberikan kepuasan material yang akhirnya mengakibatkan krisis moral dan menimbulkan polusi mental spritual, sehingga akibat dampak ini mcnurut ramalannya. Peradaban tersebut semakin rnerdeka kepada kehancuran. Oleh karena itu, sebagai solusi untuk mengatasi kelemahan dan kemerosotan peradaban tersebut, hanyalah dapal dijawab oleh peradaban Islam.
Hal lain yang dapat membuat mahasiswa mampu mengenal identitasnya adalah lewat studi perbandingan terhadap agama-agama. Namun konsep studi ini tidak ditemukan dalam rekomendasi kurikulum pada konferensi pendidikan Islam.
c. Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan menurut al-Faruqi ada dua yaitu lembaga formal, dari sekolah dasar sampai ke universitas, namun yang paling disorotinya dalam wacana pemikirannya adalah lembaga pendidikan yang kedua, yaitu lembaga pendidikan Islam di luar sekolah-sekolah formal, seperti dilaksanakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, organisasi atau tempat lainnya di mana para pelajar dapat mempelajari tentang ajaran Islam. Pandangan ini mungkin dilatarbelakangi pengalaman pendidikan yang dicapai oleh al-Faruqi sendiri. Dari awal dia belajar di sekolahsekolah sekuler, hanya di mesjidlah dia mengikuti pendidikan Islam. Lembaga pendidikan tersebut dapat disamakan dengan lembaga informal (Indonesia). Pendidikan seperti ini memberikan lebih dari sekedar pendidikan biasa, sungguh ia merupakan akulturasi dan sosialisasi, berbeda dengan pendidikan yang diterima di sekolah-sekolah formal yang sangat terbatas. Proses pendidikan tersebut dinamakannya dengan tabyinat. Tabyin merupakan kewajiban yang harus dilakukan muslim, merupakan transformasi pendidikan oleh generasi kepada generasi lainnya yang dikategorikannya dalam suatu kewajiban tradisi pendidikan yang dianggapnya fardhu 'ain. Tabyin pertama kali dilakukan oleh orang tua kemudian dilakukan oleh masyarakat, kemudian oleh muslim kepada yang lainnya sesama muslim.
Dalam hal ini nampaknya al-Faruqi sepaham dengan konsep lembaga pendidikan yang dipraktekkan oleh Ikhwanul Muslimin yang awalnya dipelopori oleh Hasan al-Bana. Konsep lembaga ini dinamakan Usaha-usaha,yang mengambil kata dari bahasa Arab yang diaitikan keluarga.
Konsep lembaga seperti ini akan lebih berhasil dalam penyelenggar&rn pendidikan Islam. Sistem pendidikan ini seperti merupakan sistem kerja yang sekarang digunakan sangat populer di kalangan kelompok usaha untuk menarik pasar yang dinamakan sistcm kerja Multi Level Maretting (MLM). Yaitu sistem pendidikun yang dilaksanakan dengan bentuk transmisi pengetahuan kepada orang Islam lainnya, sesama muslim dengan cara bergerilya dari satu orang menjadi dua orang kemudian berkembang menjadi empat orang, dan terus berkembang lebih banyak lagi sesuai jumlah akar transmisi ilmu tersebut. Sistem pendidikan Islam yang dilaksanakan dengan cara kerja demikian dapat berkembang efektif, tinggal bagaimana untuk memaksimalkannya dengan memberikan kajian-kajian keilmuan, atau pendidikan Islam yang lebih ilmiah, aktual, dan terbuka dengan cara diskusi-diskusi atau seminarseminar, tidak seperti yang dilakukan oleh sistem usrah yang terkesan dilaksanakan secara sembunyi dan hanya memberikan materi-materi tentang dasar-dasar ajaran Islam yang ditafsirkan secara sempit atau yang bersifat doktrinasi.
Untuk mempermudah proses Islamisasi Al-Faruqi mengemukakan langkah langkah yang harus dilakukan diantaranya adalah:
a.Penguasaan disiplin ilmu moderen: penguraian kategoris. Disiplin ilmu dalam tingkat kemajuannya sekarang di Barat harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi metodologi, problema-problema dan tematema. Penguraian tersebut harus mencerminkan daftas isi sebuah pelajaran. Hasil uraian harus berbentuk kalimat-kalimat yang memperjelas istilah-istilah knis, menerangkan kategori-kategori, prinsip, problema dan tema pokok disiplin ilmu-ilmu Barat dalam puncaknya.
b. Survei disiplin ilmu. Semua disiplin ilmu harus disurvei dan di esei-esei harus ditulis dalam bentuk bagan mengenai asal-usul dan perkembangannya beserta pertumbuhan metodologisnya, perluasan cakrawala wawasannya dan tak lupa membangun pemikiran yang diberikan oleh para tokoh utamanya. Langkah ini bertujuan menetapkan pemahaman muslim akan disiplin ilmu yang dikembangkan di dunia Barat.
c. Penguasaan terhdap khazanah Islam. Khazanah Islam harus dikuasai dengan cara yang sama.
d. Penguasaan terhadap khazanah Islam untuk tahap analisa.
e. Penentuan relevensi spesifik untuk setiap disiplin ilmu.
f. Penilaian kritis terhadap disiplin moderen. Jika relevensi Islam telah
disusun, maka ia harus dinilai dan dianalisa dari titik pijak Islam.
g. Penilaian krisis terhadap khazanah Islam.
i. Survei mengenai problem-problem umat manusia.
j. Analisa kreatif dan sintesa.
k. Merumuskan kembali disiplin-disiplin ilmu dalam kerangka kerja (framework) Islam. Sekali keseimbangan antara khazanah Islam dengan disiplin, moderen telah diacapai buku-buku teks universitas harus ditulis untuk menuangkan kembali disiplin-disiplin moderen dalam cetakan Islam.
l. Penyebarluasan ilmu pengetahuan yang sudah diislamkan.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Adapun kesimpulan tentang makalah adalah sebagai berikut:
1. Al-Faruqi adalah tokoh pemikir masa sekarang, seorang sarjana muslim dengan latar belakang pendidikannya dari dunia Barat dengan pemikiran tentang islam yaitu normativitas islam yaitu Tauhid yaitu kalau dirangkum sebagai berikut :Tauhid sebagai inti pengalaman agama,Tauhid sebagai pandangan dunia, Tauhid sebagai intisari Islam, Tauhid sebagai prinsip sejarah, Tauhid sebagai prinsip pengetahuan, Tauhid sebagai prinsip metafisika, Tauhid sebagai prinsip etika, Tauhid sebagai prinsip tata sosial, Tauhid sebagai prinsip ummah.
2. Adapun pemikiran Al-Faruqi tentang pendidikan Islam adalah Tauhid sebagai Essensi Pendidikan Islam dan pemikiran dalam Pendidikan Islam. Adapun pemikiran Al-Faruqi tentang pendidikan islam ada dua yaitu ;
a. Pemikiran Al-Faruqi tentang Manusia
b. Kurikulum
DAFTAR PUSTAKA
Abud, Abdul Gani, fi al-T'arbiyah al'Islamiyah, cet- 1. Mesir, Darul Fikr, I 988.
Al-Faruqi, Ismail Raji, "Peradaban Tauhid" dalam Ulumul Qur'ano rlvnl1996.
….………………….., Hakikat Hijrah, Bandung, Mizan, 1994.
….………………….., Islam dan Keburloyaan, teti. Yustiono, Banrdung,
….…………………..-, Islamisasi Pengetahuan, terj. Anas Mahyudclin,
Bandung, Penerbit Pustaka, 1995.
….………………….., Tauhid, terj. Rahmani Asluli, Bandung, Petrerbit
Pustaka, 1995.
Ashraf, Ali, Horizon Baru Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, Surabaya, Pustaka Firdaus.
Aziz,M. Amin, "lslamisasi llmu Sebagai Isu" dalam Ulumul Qttr'an",vol III. No. 4,1992.
Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme, hingga Post Modernisme, Jakarta, Paramadina,1996.
AL-BANJARI Vol. 7, No. l, Januari 2008 50
Barnadib, Imam, Filsafat Pendidikan Islam: Sistem dan Metode, Yogyakarta, IKIP, 1987 .
Berzinji, Jamal, "sejarah Islamisasi Pengetahuan" dalam maialah Salam, ed.2 &,3 tahun 1997.
Dewey, John, Science of Educatio,n, New York, the Free Press, 1983.
Donohue, John J., dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan:
Esposito, John L., The Oxford Insyclopedia of Islamic Word, New York,
Oxford University Press, 1995.
Hasan, Riaz, Islam dari Conservatisme sampai Fundamenta,lisme, cet- 1. Jakarta, CV. Rajawali, 1985.
Ismail, Faisal, Islam dalam Perspektif Kultural, Yogyakarta, Sumbangsih, 1985.
Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid terj. Rahmani Astuti, Pustaka, 1998, hlm 1. (dalam buku Ilmu kalam, Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Ag, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, halaman230)
Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangon Pemikirannya, Jakarata, PT Raja Grafindo Persada,1994.
Qadir, C.A., Filsafat dan llmu Pengetahuan dalam Islam, terj. Hasan Basri, Jakarta, Yayasan Obor, 1991.
Qardawi, Yusut', Islam Perudaban Masa Depan, terj. Mustolah Maufur, Jakarta, Al-Kautsar, 1996.
Supriatman, Maman, "Revitaliasi Filsafat Pendidikan Islam: Upaya Mcmbangun Sistem Pendidikan Integratif' dalam Jurnal Lektur
Pendidikan, seri IV, Cirebon, Puslitbang IAIN Sunan Gunung Jati, 1996.
Triyuwono, Iwan, *Metodologi Islamisasi IImu pengetahuan: orientasi Masa Depan" dalam Salam, ed. Z & 3 th II Desember 1997 Juni 1998.
Comments
Post a Comment